oleh

Aksi Bela Tauhid 211 Cara HTI dan Ormas Radikal Memecah Umat Islam dan Pemerintah

-politik-43 Dilihat

Indonesiabangsaku, Jakarta Rencana seruan Aksi Bela Tauhid pada 2 November 2018 sebagai bentuk perlawan atas pembakaran bendera Hizbut Tahrir (HTI) oleh Banser sudah dapat dipastikan bagian dari kepentingan politik makar.

Dengan membajak kalimat tauhid untuk politik Makar, mereka HTI dan ormas radikal membajak kalimat tauhid untuk kepentingan politik mereka, untuk kepentingan Pilpres!

Oleh sebab itu mereka tidak membela kalimat tauhid, sebab cara-cara mereka memperlakukan bendera yang bertuliskan kalimat tauhid sangat merendahkan sekali.

Seruan Nasional Aksi Bela Tauhid 2 November 2018 sudah tidak relevan digelar karena kasusnya telah ditangani aparat penegak hukum dan pelaku pembakar bendera sudah ditetapkan sebagai tersangka serta sejumlah Ormas Islam, NU dan Muhammadiyah sudah sepakat tidak memperkeruh masalah tersebut.

Karena itu, Aksi Bela Tauhid jangan sampai ditunggangi oleh kepentingan HTI untuk kembali bangkit melalui gerakan Ormas dan umat Islam.

Tauhid sebaiknya diamalkan dalam masing-masing pribadi umat Islam, bukan dengan cara intimidatif dan provokasi.

Skenario politik makar ini harus diakhiri, sebab Aksi Bela Tauhid pada 2 November 2018 adalah cara HTI dan Ormas radikal memecah umat Islam dan Pemerintah.

Sehingga masyarakat khususnya umat Islam harus mewaspadai bahaya laten HTI dan gerakan makar #2019GantiPresiden dalam Aksi Bela Tauhid.

Sebelumnya, sejumlah ormas Islam mulai dari MUI, NU, PBNU, PP Muhammadiyah, Syarikat Islam, hingga Persis berkumpul di kediaman Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk membahas kasus pembakaran bendera bertulis kalimat Tauhid di Garut, Jawa Barat.

“Setelah kita berbincang, bermusyawarah hampir 2 jam setengah, telah kita putuskan untuk membuat pernyataan bersama mengenai persitiwa di Garut,” kata JK di Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (26/10).

Dari hasil pertemuan itu, disepakati 5 poin sikap atas kasus tersebut.

1. Para pimpinan ormas Islam mengingatkan bangsa Indonesia dalam mengatasi berbagai masalah bangsa selalu diselesaikan dengan musyawarah dan saling pengertian, serta tetap menjaga persatuan dan kesatuan dengan kearifan dan nilai luhur bangsa.

2. Para pimpinan ormas Isam yang hadir menyesalkan terjadinya pembakaran bendera di Kecamatan Limbangan, Kabupaten Garut, dan sepakat menjaga suasana kedamaian, serta berupaya meredam agar tidak terus berkembang ke arah yang tidak diinginkan.

3. Dalam upaya menyelesaikan dan mengakhiri masalah ini, oknum yang membakar dan membawa bendera telah menyampaikan permohonan maaf. Pimpinan GP Anshor serta Nadhatul Ulama menyesalkan peristiwa tersebut dan telah memberikan sanksi atas perbuatan yang melampaui prosedur yang telah ditetapkan dan berharap tidak terulang kembali.

4. Menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk bergandengan tangan, menolak segala bentuk upaya adu domba dan pecah belah, menahan diri agar tidak lagi memperbesar masalah. Khususnya kepada segenap umat Islam, marilah kita bersama-sama mengedepankan dakwah Islam yang bil hikmah wal mauidzatil hasanah.

5. Apabila terdapat pelanggaran hukum di dalam peristiwa ini, diserahkan kepada Polri untuk menyelesaikan berdasarkan hukum yang berlaku.

JK menyatakan seluruh ormas Islam yang hadir telah sepakat untuk mendukung proses hukum yang tengah bergulir terkait kasus ini.

“Semua proses ini disaksikan dan mendapatkan dukungan apabila ada masalah hukum diserahkan. Saya kira itu,” ujarnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.