oleh

Asian Games 2018 Menuju Indonesia Maju

-Olahraga-39 Dilihat

Indonesiabangsaku, Jakarta Pada 1981, Komite Olimpiade Internasional (IOC) memilh Korea Selatan menjadi tuan rumah Olimpiade 1988. Pada tahun itu, Korea Selatan baru beranjak naik dari image sebagai negara agraris termiskin di dunia. Karena itu, banyak pihak yang meragukan Korea Selatan akan berhasil melaksanakan olimpiade tersebut.

Selain demonstrasi mahasiswa, banyak lagi kendala internal yang harus mereka hadapi. Belum lagi konfrontasi dengan Korea Utara yang pada tahun-tahun itu praktis masih berlangsung. Bahkan, setahun sebelum pelaksanaan Olimpiade 1988, pesawat Korean Air meledak di udara akibat ulah dua agen rahasia Korea Utara pada 1987. Korea Selatan meyakini tujuan teror itu adalah agar warga dunia takut datang ke Korea Selatan.

Dalam kenyataannya, Korea Selatan didorong untuk kuat dan mampu. Akhirnya, mereka terbukti berhasil menggelar Olimpiade 1988, yang dihadiri 160 negara peserta, 13.600 atlet, 2.700 delegasi IOC dan organisasi lain, serta 11.700 pewarta. Atlet Korsel juga meraih prestasi hebat dengan merebut 12 emas dan menempati peringkat ke-4.

Olimpiade Seoul benar-benar menjadi ajang pembuktian sekaligus titik penting Korea Selatan untuk melangkah maju. Hal itu ditegaskan Presiden Roh Tae-woo dalam pidato pembukaan, “Lewat Olimpiade Seoul, kami sampai pada ambang gerbang dunia maju.” Pengalaman Korea Selatan ini menunjukkan betapa penting pembangunan olahraga untuk membawa sebuah negara melangkah maju.

Indonesia pun menyadari hal itu. Karena itu, begitu ditetapkan menjadi tuan rumah Asian Games pada September 2014, pemerintahan Presiden Joko Widodo bergegas melakukan pembenahan, agar dapat menyambut kedatangan 16 ribu atlet dan official dari 45 negara.

Menjadi tuan rumah event internasional multicabang olahraga tentu tidaklah mudah. Buktinya, Vietnam saja mengundurkan diri karena tidak siap, dan akhirnya digantikan Indonesia.

Kendala internal di Indonesia pun cukup besar. Banyak fasilitas olahraga yang semestinya dapat mempermudah Indonesia dalam mempersiapkan diri sebagai tuan rumah dan peserta Asian Games 2018, ternyata mangkrak. Salah satunya adalah Pusat Pelatihan, Pendidikan, dan Sekolah Olahraga Nasional Hambalang di Sentul, Jawa Barat.

Pembangunan proyek tersebut masuk tahun anggaran 2010-2012. Pembangunan dilakukan di atas tanah seluas 32 hektar itu terbengkalai karena kasus korupsi. Presiden Jokowi memutuskan untuk melanjutkan pembangunan proyek tersebut karena telah menelan biaya triliunan rupiah. Keputusan itu diambil karena memandang penting sarana tersebut untuk pembinaan olahraga di masa depan.

Besarnya anggaran untuk pelaksanaan Asian Games 2018 memang menjadi tantangan bagi Indonesia. Dana yang dibutuhkan sekitar Rp 30 triliun. Dana ini mencakup perbaikan infrastruktur dari arena pertandingan hingga transportasi untuk dua kota tempat penyelenggaraan, Jakarta dan Palembang, serta sejumlah kota lain yang menjadi tempat pertandingan sejumlah cabang olahraga.

Banyak yang meragukan bahwa pendanaan tersebut dapat terpenuhi. Apalagi, pemerintah Presiden Jokowi tengah getol membangun berbagai infrastruktur berupa jalan, jalan tol, jalan kereta api, pelabuhan, maupun bandara di berbagai daerah, yang tentu menghabiskan dana sangat besar.

Keraguan itu tak hanya datang dari dalam negeri, juga luar negeri. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono pernah mengungkapkan, Indonesia hampir batal menjadi tuan rumah Asian Games 2018. Olympic Council of Asia (OCA) sempat menilai persiapan Indonesia lambat. OCA pun mempertimbangkan untuk memindahkan penyelenggaraan ke negara lain.

Untunglah Basuki berhasil meyakinkan, Indonesia bakal merampungkan pembangunan dan renovasi sarana sesuai jadwal. Maklum saja, Kementerian PUPR menjadi pihak yang paling bertanggung jawab terhadap aspek infrastruktur.

Secara keseluruhan, ada 76 venue alias fasilitas olahraga dan 14 non-venue yang disiapkan. Sarana ini akan digunakan untuk kompetisi dan latihan. Adapun fasilitas non-venue yang dibangun adalah wisma atlet dan light rail transit (LRT) di Jakarta dan Palembang.

Sarana olahraga yang dibangun sudah sesuai dengan standar internasional. Arena balap sepeda (velodrome) dan pacuan kuda (equastrian) sudah memenuhi standar olimpiade, sehingga bisa digunakan untuk kejuaraan internasional setelah perhelatan Asian Games.

Presiden Jokowi pun sepertinya tak ingin Indonesia gagal. Beberapa kali Presiden mengadakan rapat tentang Asian Games. Tak hanya itu, Presiden pun sering turun melihat langsung jalannya penyiapan sarana dan prasarana pesta olahraga terbesar di Asia itu. Maklum saja, kesempatan menjadi tuan rumah Asian Games terbilang langka. Indonesia terakhir kali menjadi tuan rumah pada 1962, alias 56 tahun lalu.

Bukan hanya fisik, kesiapan nonfisik pun menjadi perhatian serius. Presiden Jokowi tak ingin Indonesia hanya berhasil sebagai tuan rumah. Presiden ingin pula prestasi olahraga para atlet Indonesia tidak mengecewakan.

Setelah prestasi Indonesia anjlok pada SEA Games 2017, pemerintah segera melakukan evaluasi. Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) yang dibentuk melalui Peraturan Presiden (Perpres) No. 22/ 2010 dibubarkan.

Pemerintah lalu memangkas birokrasi di bidang olahraga guna peningkatan prestasi atlet. Pemerintah tidak membolehkan lagi ada kerumitan dalam organisasi keolahragaan. Presiden Jokowi memperkuat hal ini dengan mengeluarkan Perpres Nomor 95/2017 tentang Peningkatan Prestasi Olahraga Nasional.

Perpres tersebut memberi amanat penuh kepada Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), didampingi Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), untuk meningkatkan prestasi. Setelah adanya Perpres, koordinasi pun menjadi lebih cepat. Sehingga, atlet bisa lebih fokus pada latihan dan pertandingan.

Perpres juga mempersingkat turunnya anggaran. Hal ini menguntungkan atlet, pelatih, dan tim pendukung, karena mereka mendapat insentif dan dukungan yang diperlukan secara lebih efektif. Anggaran Kemenpora juga langsung dikucurkan ke pengurus besar cabang olahraga.

Cabang olahraga bertanggung jawab penuh secara langsung kepada Kemenpora. Artinya, prestasi olahraga dipantau langsung, dan harus dipertanggungjawabkan baik secara anggaran maupun kualitas atlet.

Secara proporsi, belanja terbesar Kemenpora pun dialokasikan untuk program pembinaan olahraga prestasi. Untuk persiapan menghadapi Asian Games 2018, anggaran program olahraga prestasi meningkat signifikan, sebesar 181,8 persen dari Rp 1,3 triliun pada 2015 menjadi Rp 3,7 triliun pada 2018.

Seluruh kebijakan pemerintah dalam peningkatan prestasi olahraga itu akhirnya terlihat dalam Asian Games 2018. Hingga Kamis (30/8) dini hari, Indonesia telah meraih 88 medali terdiri dari 30 emas, 22 perak, dan 36 perunggu. Raihan medali masih bisa bertambah hingga Asian Games 2018 berakhir pada 2 September 2018.

Torehan prestasi Indonesia ini selain melebih target 16 emas, juga mencatatkan sejarah baru. Raihan medali terbanyak Indonesia sebelumnya terjadi pada Asian Games 1962 yakni 11 emas, 12 perak, dan 28 perunggu. “Kita ini bangsa besar, jangan sampai 10 besar saja tidak masuk,” kata Presiden Jokowi, dua minggu sebelum pelaksanaan Asian Games 2018. Dan, ternyata Indonesia sudah nangkring di urutan ke-4.

Prestasi ini sangat membanggakan. Prestasi tersebut kian menyemangati seluruh komponen bangsa untuk membawa Indonesia menjadi negara maju. Presiden Jokowi pun menyinggung pentingnya Asian Games bagi upaya Indonesia menuju ke arah negara maju dalam pidatonya memperingati Hari Lahir Pancasila tahun ini. “Saya yakin semangat berprestasi ini juga membara di seluruh lapisan masyarakat dan di seluruh jenis profesi untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju, negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” ujar Presiden.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.