oleh

Bandingkan Era SBY dan Jokowi, AHY Frustasi Gagal Bangun Elektabilitasnya

Direktur Rumah Politik Indonesia Fernando Emas menanggapi pernyataan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang membandingkan pembangunan era SBY dengan Jokowi. Menurutnya, itu cara yang salah.

Fernando justru menilai, tindakan itu sekadar sikap AHY yang tidak mampu membangun elektabilitas.

“Bagaimana bisa meningkatkan elektabilitas itu, tetapi malah mendapatkan bully-an, mendapatkan tidak simpati dari masyarakat,” kata Fernando saat dihubungi, Selasa (20/9).

Seperti diketahui, Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono melayangkan manuver dengan membanggakan pembangunan infrastruktur era Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), sambil menyinggung pembangunan infrastruktur di era Pemerintahan Presiden Jokowi, yang disebutnya ‘tinggal gunting pita’.

Menurut Fernando, sikap blunder AHY disebabkan kesalahan anak buahnya dalam mensuplai data, sehingga menjadi bahan lelucon masyarakat Indonesia. Apalagi pernyataan AHY disampaikan dalam forum pimpinan nasional Partai Demokrat, dan data tersebut salah.

Menurut dia, jika mau dibandingkan, pembangunan infrastruktur era Jokowi jauh lebih baik dari SBY. Contoh, SBY hanya membangun jalan tol sepanjang 189,2 kilometer (km) sejak 2004 hingga 2014. Sedangkan Jokowi, telah membangun jalan tol sepanjang 1.762,3 km sejak menjabat pada tahun 2014. Bahkan 750 km jalan tol ditargetkan rampung pada 2024.

Belum lagi pembangunan atau konstruksi bandara juga mencolok perbedaannya. Pada era SBY, 24 pembangunan bandara rampung dalam kurun waktu 10 tahun. Sedangkan pada era Jokowi, 29  bandara, dan infonya menargetkan 9 bandara baru maupun perbaikan yang akan selesai pada 2024.

Selain itu, ada 18 bendungan yang dimulai konstruksinya pada era SBY. Seluruhnya diselesaikan di era Jokowi. Jokowi juga diketahui membangun 12 bendungan sejak menjabat.

Jika diakumulasi, ada 30 bendungan yang selesai dibangun pada era Jokowi. Di era Jokowi juga ditargetkan ada 27 bendungan lagi hingga 2024.

Menurut  Fernando, seluruh masyarakat tahu dan berdasarkan data-data yang sudah banyak muncul di publik, sangat jelas pada masa pemerintahan Jokowi lebih banyak pembangunan infrastruktur.

“Data itu berdasarkan tahun-tahun memulainya pekerjaan sampai pada tahap seremonial peresmian. Sangat jelas di situ,” jelas Fernando.

Harusnya, kata Fernando, setiap tokoh bangsa dan para elite politik memberikan pendidikan politik dengan informasi yang benar kepada masyarakat. Bukan saling mengklaim pekerjaan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.