oleh

Cara Pandang Pemuda Dalam Memahami Isu-Isu Gerakan Radikalisme Di Indonesia

-ideologi-28 Dilihat

Pada era demokrasi modern, tentunya keberpihakan pada suatu golongan dan tokoh publik tidak hanya didasari dengan sentimen dan hubungan emosional saja, melainkan perlu didorong dengan paradigma berpikir dan kecakapan akan peradaban yang sekiranya cukup untuk memilih dan bersikap untuk bergabung dan bergerak pada faksi politik tertentu. Dalam konteks berbangsa dan bernegara, demokrasi yang konstruktif merupakan bentuk pemikiran yang selaras antar beragam golongan dengan penopang semangat pancasila dan menjunjung tinggi konstitusi Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945).

Sejarah berbicara, beragam pemikiran yang ada dan dipelajari oleh banyak cendekiawan hari ini merupakan produk dari para pemuda di masa lampau. Pada akhirnya melahirkan beragam faksi politik dengan basis ideologi yang membikin semangat para pemuda dalam mengaktualisasikan ghirah-nya di setiap lini organisasi. Munculnya PNI, NU, PKI, Masyumi dan SI adalah wujud keterlibatan pemuda di masa lalu yang telah mendedikasikan dirinya untuk kebaikan umat dan bangsa.

Namun dalam kurun waktu 10-20 tahun kebelakang, pemuda kian mengalami degradasi pada segi kedewasaan emosional dan intelektual. Pemuda dapat terbilang terlalu terbuai oleh keadaan yang serba ada dan akses informasi teknologi semakin mudah, tetapi para pemuda hari ini lalai dengan keadaan yang justru semakin mudah secara informasi dan komunikasi, akan juga lebih banyak paham yang masuk kemudian mencoba mengganggu stabilitas politik dan keamanan di Negara kita.

Paham-paham yang masuk melalui teknologi dan informasi tersebut dapat memicu kekacauan dan gerakan-gerakan yang sifatnya destruktif dengan tujuan merubah sistem tata Negara yang ada, gerakan itu bernama; Radikalisme. Radikalisme tentunya tidak didasari oleh paham keagamaan yang sifatnya murni, melainkan ideologi dengan tujuan membentuk faksi politik tersendiri guna melakukan agitasi dan propaganda kepada masyarakat untuk mengganti sistem bernegara.

Dalam hal ini, pemuda perlu memetakan isu-isu gerakan radikalisme yang kalau dibiarkan dapat menimbulkan konflik horizontal dan perpecahan dikalangan masyarakat Indonesia. Karena radikalisme berawal dari sebuah paham; yang sejatinya sulit untuk dibunuh ataupun dimusnahkan, maka para pemuda di era demokrasi modern saat ini perlu menggagas suatu wacana konstruktif bersama untuk memperkuat solidaritas demi mempertahankan kedaulatan NKRI. Dengan demikian, pikiran perlu dilawan dengan pikiran sehingga dapat melahirkan ekosistem intelektual yang kuat dan menjadi tradisi demokrasi di Indonesia.

Muhammad Sulthan Amani

Ketua Bidang Kaderisasi dan Keanggotaan PW PRIMA DMI DKI Jakarta

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.