oleh

Sudah Amnesia, Titiek Soeharto Menilai Era Jokowi Lebih Gila Dibanding Orde Baru.

IndonesiaBangsaku.com = Seperti apa perlakuan pemerintah Orde Baru kepada tersangka makar ? Tampaknya Titiek tak terlalu paham detilnya. Terbukti ketika dia mencoba membandingkannya dengan pemerintahan era Joko Widodo, dengan penuh keyakinan menyebut di era Soeharto tidak seperti ini.

Barangkali yang dimaksudkannya adalah tidak dilakukan proses peradilan, namun langsung dilenyapkan. Itulah ciri khas yang berlaku ketika Bapaknya Titiek berkuasa. Jangankan kepada terduga makar, penjahat kelas jalanan saja secara terang-terangan Soeharto mengaku mengetahui ada tindakan represif kepada mereka, semisal penghilangan secara paksa.

Titiekpun rupanya tak paham jika Bapaknya sering mendapatkan kritikan dari negara demokratis berkenaan dengan tindakan represif pemerintah yang dipimpinnya. Apa jawaban Soeharto kepada mereka ? Katanya HAM yang berlaku di Indonesia jangan samakan dengan HAM di negara mereka.

Kita memiliki budaya tentang hak azasi yang menjadi ciri khas kita sendiri, demokrasi kita tidak sama dengan demokrasi di barat. Faktanya, dengan melakukan pemberangusan kepada media-media yang kritis, Soeharto bahkan mengesampingkan keberatan pihak barat tentang caranya melakukan tindakan keras kepada pers.

Tahukah Titiek suasana di gedung Dewan pada era 70-an ? Di sana mendapat gambaran dari seorang penyanyi dalam lagunya yang dilarang diperdengarkan, bahwa wakil rakyat ibarat paduan suara yang menyuarakan syair dengan satu suara yakni ‘SETUJU’. Tidak ada kata lain selain kata populer tersebut.

Jika satu kali anggota dewan menginterupsi ketuanya, maka dijamin keesokan harinya dia telah mendapatkan surat recall dari induk organisasi partainya.

Dengan cara pendekatan seperti itu kepada pihak yang tidak berkualifikasi makar, maka dapat dibayangkan caranya memperlakukan kepada mereka yang berbuat makar. Bisa saja pendekatannya sama atau lebih dibanding kepada mereka para penjahat jalanan, yakni penghilangan secara paksa.

Titiek Tak Tahu Bapaknya Perlakukan Tersangka Makar

Kenyataan itu bukanlah isapan jempol, hingga masa-masa terakhir kekuasaan Soeharto, demi melanggengkan jejak kekuasaannya, dia pun memberi perintah kepada menantunya saat itu, yang menjadi Danjen Kopassus, minimal ini menurut pengakuan sang menantu sendiri. Kepada para aktifis demokrasi yang telah ditandai, terjadi penculikan, sebagian berhasil lolos dari tragedi, namun sebagian lagi tidak diketahui keberadaannya hingga saat ini.

Kalau Titiek bisa menjelaskan, seperti apa pendekatan pemerintah era Bapaknya kepada pelaku makar, kalau kepada para aktifis demokrasi saja sudah sedemikian berat resiko yang mereka terima.

Lalu beranikah Titiek memberi ilustrasi tentang nasib para tersangka kasus makar di era Jokowi ? Adakah di antara mereka yang dihilangkan secara paksa, sebagaimana yang dilakukan kepada para aktifis di era Bapaknya ?

Sementara para tersangka makar itu dosanya sangatlah kasat mata, mereka menebarkan kebencian sedemikian rupa kepada pemerintah yang mendapat legitimasi kuat, seakan-akan pemerintah yang diakui itu harus diganti tanpa melalui mekanisme demokasi.

Bukankah cara demikian sudah memenuhi unsur kasus makar ? Kenapa bagi mereka yang hanya diberi pendekatan hukum sebagaimana mestinya, Titiek sampai berteriak era sekarang ini lebih gila dibanding penghilangan paksa di era Orde Baru ?

Barangkali Titiek berani membandingkan kasus tersebut, karena menurutnya lebih baik dihilangkan sekalian daripada harus menanggung malu mendapat panggilan dan dilakukan penahanan.

Kalau kesimpulan tersebut mengandung kebenaran, dapat dibayangkan pula jika capres yang didukungnya berhasil mendapat kepercayaan rakyat. Barangkali atas pertimbangan tidak segila pemerintahan Jokowi, pemerintah bentukannya akan mengembalikan gaya Orde Baru dalam menghadapi para aktifis dan pihak yang kritis kepada pemerintah, termasuk media massa.

Atas nama anggapan pemerintah melakukan pendekatan gila, para tersangka dugaan makar menurut Titiek tidak bisa diperlakukan sebagaimana hukum menuntutnya. Bagi mereka seharusnya meniru cara Soeharto melakukan pendekatan, seperti apa itu ? Bolehlah kita tanya kepada para tersangka yang sedang disidik di Polda Metro Jaya, apakah mereka setuju dengan pilihan Titiek ?

Kalau saja mereka masih berpikiran waras, niscaya responnya tidak seperti yang diharapkan oleh Titiek, karena pasti merekapun membayangkan seperti apa bentuk pendekatan kepada pelaku makar di era Soeharto.

Kita berani jamin kalau ditanyakan langsung kepada Eggi Sudjana atau Lieus Sungkharisma, adakah mereka setuju seandainya pendekatan para penyidik diubah caranya dengan gaya yang berlaku pada saat Orde Baru ? Untuk membayangkannya saja, mereka barangkali tidak berani, apalagi harus mengalaminya.

Mereka pasti membayangkan pengalaman para aktifis yang mengalami penyiksaan ala militer ketika mereka diinterogasi saat itu. Banyak pengakuan dari mereka yang berhasil lolos dari penyiksaan. Dan beberapa diantaranya sempat mendengar melalui telinganya sendiri, bahwa rekannya yang hilang hingga saat ini pun, pernah terdengar meraung kesakitan karena siksaan yang tak terkira. Dan hanya dengan mendengar jeritan mereka, pasti pula rekannya pun menduga jeritan itu menggambarkan sedahsyat apa rasa sakitnya.

Mari kita berasumsi terkait cara Titiek Soeharto menilai perlakuan kepada mereka yang dianggap lawan oleh negara, seandainya dia menganggap perlakuan di era Orde Baru tidak sama dengan cara pemerintahan sekarang, faktanya justru di masa itulah sejumlah aktifis demokrasi mengalami perlakuan tidak berperikemanusiaan, tanpa ada penyidikan melainkan interogasi ala militer, dan tanpa pengadilan namun penghilangan secara paksa.

Cara itulah yang menurut Titiek tidak segila seperti pemerintahan era Jokowi. Bagi Titiek, penahanan adalah hal lebih gila dibandingkan dengan penyiksaan dan interogasi yang disusul dengan penghilangan. Demikian menurut penyuka nalar terbalik.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *