oleh

Titiek Soeharto Amnesia Karena Anggap Zaman Bapaknya Lebih Demokratis

Anggota Dewan Pengarah Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Siti Hediati Hariyadi alias Titiek Soeharto membanding-bandingkan kualitas demokrasi antara Pemerintahan Jokowi dengan era Soeharto. Titiek menilai demokrasi masih lebih baik di zaman Bapaknya. Pernyataan Titiek langsung diserbu warganet.

Kata Titiek Soeharto, kecurangan yang terjadi dalam Pemilu 2019 lebih curang dari yang terjadi pada era Presiden Soeharto. “Dulu dikatakan zaman Pak Harto bahwa pemilunya curang, tapi ternyata sekarang pemilunya jauh lebih curang. Betul?” ungkap Titiek, Jumat (17/5).

Menurut dia, kecurangan dalam Pemilu 2019 adalah pengkhianatan terhadap bangsa dan negara. Titiek pun menyebut pemerintahan Jokowi gagal menjalankan demokrasi. Ketika di depan Gedung Bawaslu, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Selasa (21/5), Titiek juga menyinggung pasal makar.

Di zaman Jokowi, kata dia, tidak boleh berbicara mengenai demokrasi di muka umum. Sebab, bisa dipenjara dengan pasal makar. “Masa semuanya dibilang makar. Dulu zaman Pak Soeharto nggak kaya begini, kayanya sekarang lebih gila lagi. Makar, makar apa sih?” katanya “Ini katanya demokrasi, kita sudah reformasi, dan boleh keluarkan pendapat. Belum apa-apa sudah dibungkam,” sambung Titiek.

Pernyataan Titiek yang membandingkan Jokowi dengan Soeharto langsung diserbu para tokoh politik dan warganet. Bayak yang kesal dan marah dengan kalimat yang dilontarkan Titiek.Wakil Sekjen DPP Partai Demokrat, Rachland Nashidik dalam akun @RachlanNashidik geram dengan Titiek. Zaman Soeharto lebih parah daripada saat ini. “Pret. Buset. Zaman Soeharto orang-orang dibunuh karena beda keyakinan politik. Dibui cuma karena baca buku. Ditahan tapi tak diadili. Diculik, disiksa, hilang. Ditembaki tentara di jalan. Dimiskinkan karena hak perdatanya dicabut dan dihalangi cari makan,” ungkap Rachland dengan penuh kesal.

“Kasihan. Sang anak gak tahu kejahatan bapaknya,” timpal Syamsuddin Haris di @ sy_haris. Lebih pedas, Diana Briantika @briantikadiana mengatakan, pada zaman Soeharto semua rakyat dibungkam selama 32 tahun.

“Cuih, anak manja yang baru keluar istana. Gak sadar kalau bapaknya penjahat besar. Sampah!” tegasnya. Lebih lanjut, herry nugroho @herry_ranwa2 mengatakan, perbandingan zaman Soeharto dengan Jokowi sangat jauh.

Saat ini, warga yang ingin demo diperbolehkan. Bahkan, bebas. “Dulu sebelum ada demo sudah hilang duluan,” katanya.

Masih dengan narasi mengkritik, Ghians Harell@ghians13 mengatakan, praktik kecurangan pemilu di zaman Soeharto sangat parah. Kalau tidak curang, tidak mungkin selama 32 tahun menjadi presiden. “Guoblokkkk titik ya, kalau gak curang gak mungkin seumur hidup Soeharto jadi presiden. Gue dah gile dengar titik bicara demokrasi, nafsu banget mau jadi ibu negara, nikmatilah hidupmu dengan harta berlimpah, berikan edukasi kepada masyarakat, jangan jadi benalu melulu,” ujar Ghians.

“Emangnya ada pemilu ya di zaman orba? Karena pemenangnya sudah diatur dan di paksa milih toh,” sambung Naniura @Chalomoan. YONGQEEE@YongkiOki menimpali, “Iya. Belum pemilu dah tau pemenangnya.. Pasti pak Harto melulu.. Amnesia ya anaknya.”

Aryasatya @Aryasat31392335 ikut menyindir Titiek Soeharto. Dia menuturkan, sebagai seorang politisi seharusnya sadar diri kalau zaman bapaknya pemilu penuh kecurangan. “Sadar buk,” dia mengingatkan. Kendati banyak yang mencerca, masih ada warganet yang membela Titiek Soeharto. A. Hasan @AkhsanH mengatakan, untuk konteks saat itu dan sekarang, maka sekarang jauh lebih parah. “Miris,” katanya.

Batman_08 @Anaknegeri08 ikut membela. Dia bilang, zaman Soeharto lebih baik dari Jokowi. “Yang jelas di zaman Pak Harto aku lihat para petani sejahtera, dah gitu saja,” akunya.

Bujangga Nom@DymanSyudy mengakui, pada zaman Soeharto rakyat kecil tenang tentram, hati dan pikiran damai, kerja tenang hidup rukun. “Yang bermasalah orang-orang ambisius politikus,” ujarnya. Apa yang dirasakan Bujangga Nom, dirasakan juga Nina Asterly @nynazka. Kata dia. Zaman Soeharto gak ada kiai-kiai dibunuhin.

Gak ada umat diberondong membabi buta. “Rasanya adem aja zaman beliau.. Yang bilang gak adem ya karena dia orang nakal,” ujar Nina Iyoet @Iyoet17 membenarkan. “Saya mengalami zaman Pak Harto yang sangat akrab dengan rakyat tanpa pencitraan,” katanya, diamini @Javras1.

“Masih hebat Pak Harto dibandingin si Jae ini. Dulu yang ditangkap kan PKI, sadar ente.”

Ali Combro@mat_sodor menambah￾kan, kalaupun ada kejadian hukum, yang melakukannya bukan Soeharto, tapi orang-orang yang sekarang ini yang melakukan nya. “Para mantan dan murid dari el be Mur,” tandasnya. (REN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *