oleh

Daya Saing Naik, Pemerintah Fokus Benahi Neraca Dagang

IndonesiaBangsaku.com – Peringkat daya saing Indonesia naik. Informasi yang termuat dalam International Institute for Management Development (IMD) World Competitiveness Ranking 2019 yang diterbitkan oleh IMD World Competitiveness Center pada 28 Mei lalu peringkat daya saing Indonesia naik  11 poin dari posisi sebelumnya yang berada di urutan 43 ke 32.

Kenaikan tersebut membuat Indonesia menjadi negara yang mengalami peningkatan peringkat daya saing tertinggi di kawasan Asia Pasifik.  Laporan IMD berisi penilaian terhadap 63 negara dengan lebih dari 230 indikator yang dikelompokkan dalam empat pilar yaitu kinerja ekonomi, efisiensi pemerintah, efisiensi bisnis, dan infrastruktur.

Meskipun naik tinggi, pemerintah belum puas dengan kondisi tersebut. Menurut mereka, pemerintah masih punya masalah dengan neraca perdagangan.

Masalah tersebut menjadi pekerjaan rumah yang harus dituntaskan usai mendapat kenaikan peringkat daya saing. 

“Kenapa saya sebut neraca perdagangan, bukan transaksi berjalan? Transaksi berjalan itu hasil berikutnya. Kalau neraca perdagangan tidak positif maka situasi transaksi berjalannya juga tidak terlalu membaik,” ujar Darmin dalam konferensi pers di kantornya, Jumat (31/5).

Untuk mengatasi masalah tersebut, Darmin mengatakan bahwa masalah utama yang harus dibenahi adalah defisit neraca migas.

Defisit tersebut berkontribusi paling besar terhadap neraca perdagangan. Pada April 2019 lalu, neraca perdagangan kembali defisit sebesar US$2,5miliar, setelah mencetak surplus pada Maret 2019 sebesar US$0,67 miliar.

Darmin mengatakan pemerintah sudah mulai melakukan upaya perbaikan atas masalah tersebut dengan melaksanakan kebijakan mandatori penggunaan campuran biodiesel 20 persen pada minyak Solar. Kebijakan ini dapat mengurangi impor Solar yang selama ini dilakukan.

Kemudian, perbaikan juga akan dilakukan pada neraca non migas dan neraca jasa. Untuk neraca jasa, pemerintah akan memperbaiki pencatatan hasil investasi badan usaha Indonesia untuk memperbaiki neraca pendapatan primer. Salah satunya dengan menyesuaikan pencatatan atas hasil usaha PT Pertamina (Persero) di luar negeri.

Darmin menilai upaya perbaikan daya saing Indonesia tidak mudah dilakukan. Terlebih hal itu dilakukan di tengah dinamika perekonomian global yang penuh ketidakpastian.

“Jangan terlalu muluk dengan dunia ini karena kondisi sedang tidak stabil,” ujarnya.

Namun, berkat sinergi antara pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan, terutama dunia usaha, Indonesia bisa meningkatkan kinerja investasi dan daya saingnya.

“Kita harus tetap semangat di tengah dinamika ekonomi global saat ini,” ujarnya.

Selain peningkatan daya saing, lembaga pemeringkat Standard and Poor’s(S&P) juga mengerek rating Indonesia dari BBB- menjadi BBB karena prospek pertumbuhan yang kuat dan kebijakan fiskal yang pruden. S&P juga menaikkan rating kredit jangka pendek Idonesia dari A-3 menjadi A-2.

Menurut Darmin, outlook stabil tersebut merefleksikan kebijakan Indonesia yang konstruktif sehingga dapat mendukung pertumbuhan ke depan.

“Peningkatan rating ini terus didukung oleh utang pemerintah yang relatif rendah dan kinerja fiskal yang moderat. Ekonomi Indonesia bertumbuh relatif lebih cepat dibandingkan negara lainnya yang memiliki tingkat pendapatan serupa,” ujarnya.

S&P juga memperkirakan defisit transaksi berjalan Indonesia juga diperkirakan akan membaik seiring stabilnya permintaan global dan pemulihan daya saing.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *