oleh

Kemsos Siapkan Pemulihan dan Bantuan Sosial Pascakonflik Papua

IndonesiaBangsaku.com – Kementerian Sosial (Kemsos) akan secepatnya melakukan upaya pemulihan dan keserasian sosial pascakonflik sosial di Papua. Saat ini verifikasi dan validasi (verivali) masih dilakukan untuk memastikan bantuan sosial kepada korban dan masyarakat terdampak.

Menteri Sosial (Mensos), Agus Gumiwang Kartasasmita, mengatakan, saat ini situasi Papua sudah kondusif. Dalam pekan ini verivali diharapkan rampung.

“Kami sudah memberi komitmen bahwa Kemsos akan memberikan bantuan sosial berupa santunan ahli waris, stimulan terhadap ekonominya,” katanya di sela-sela acara Bimbingan Teknis Keserasian Sosial di Jakarta, Jumat (6/9/2019).

Agus menambahkan, stimulan ekonomi diberikan kepada pelaku usaha yang toko, warungnya terimbas kerusuhan sehingga kehidupan ekonominya normal kembali.

Dalam pemulihan dan membangun keserasian sosial pun diterjunkan tim layanan dukungan psikososial untuk mengatasi trauma di masyarakat terdampak.

Pada kesempatan itu, Mensos menambahkan, Kemsos serius membangun tenaga pelopor perdamaian dan keserasian sosial khususnya di daerah yang pernah mengalami konflik sosial. Di samping itu, keserasian sosial juga menjadi deteksi dini potensi konflik yang ada di tengah masyarakat.

“Kita jaga dan rawat kebhinekaan itu. Perbedaan harus dan bisa dijadikan modal kita bisa maju,” ucapnya.

Dalam penanganan sosial pascakonflik Papua pun, pendekatan yang dilakukan dengan persuasif, budaya dan kearifan lokal.

Menurut Agus Gumiwang, konflik sosial yang terjadi harus membawa kesadaran bersama dalam kehidupan berbangsa bernegara yang multikulturalisme perlu dilandasi saling menghormati dan tegang rasa.

Potensi konflik di Indonesia merupakan sesuatu yang inheren di masyarakat multikultural. Oleh karena itu butuh manajemen bijaksana dan baik agar keberagaman justru menjadi kekuatan yang dahsyat.

“Realitas sosial yang terjadi ini menjadi gejala dan menuntut kewaspadaan semua masyarakat,” ucapnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka konflik di tahun 2018 menunjukkan peningkatan dalam 10 tahun terakhir. Di tahun 2011 sebesar 3,26 persen terjadi konflik di daerah (desa/kelurahan), tahun 2014 naik menjadi 3,38 persen dan tahun 2018 menjadi 3,75 persen.

Tipe perkelahian yang memicu konflik itu terjadi antarkelompok, desa atau kelurahan, pelajar dan suku. Pertikaian antarkelompok dan desa merupakan dua jenis perkelahian yang terjadi di Indonesia.

Meningkatnya sikap intoleransi mengindikasikan lemahnya nilai kesetiakawanan sosial yang berpotensi meningkatkan konflik sosial di berbagai daerah di Indonesia.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *