oleh

BBM 1 Harga, Bensin Rp 100 Ribu/Liter di RI Jadi Cerita Lama

Indonesiabangsaku.com – Martinus Sirang tak pernah menyangka bahan bakar minyak (BBM) murah bisa hadir di desanya, Ujoh Bilang, Long Bagun, Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur.

Jarak desanya hanya 322 kilometer dari Samarinda. Namun dengan kontur jalan darat yang sulit, desa ini lebih mudah dicapai lewat sungai. Dari dermaga, perjalanan pun harus dilanjutkan dengan jalan berkelok dengan kontur menurun hingga menanjak.

Tak heran, selama puluhan tahun ini harga bensin di Long Bangun berkali-kali lipat lebih mahal dari harga di Jakarta. Termurah harga premium sekitar Rp 9.000, atau 40% lebih mahal dari Jawa.

Bila pasokan terhambat, harga bensin pun bisa menjulang hingga Rp 40.000 per liter. Tak heran, harga-harga barang-barang di sekitar desanya pun terkerek naik imbas biaya kirim yang mahal. Di Papua, bahkan bensin bisa menyentuh harga Rp 100 ribu per liter. 

Namun penderitaan yang dialami puluhan tahun tersebut, jadi kisah usang sejak Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Kompak 66.757007 hadir di desa ini. Berbagai jenis bahan bakar kulai dari Premium hingga Pertamina Dex dijual sama dengan harga di Jakarta, alias BBM Satu Harga.

Kisah yang sama diungkapkan oleh Jerry Binilang, warga kecamatan Essang Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Dengan profesi utama sebagai nelayan, masyarakat Essang sangat bergantung terhadap bensin untuk mencari nafkah.

Namun, apa daya mereka harus dihadapkan dengan bensin berharga mahal selama puluhan tahun sejak Indonesia merdeka. Pada kondisi biasa, harga premium di pengecer tembus Rp 10.000 sampai Rp 15.000 per liter.

Harga bensin pun akan melonjak bila pasokan terhambat akibat cuaca buruk. Bila itu terjadi, maka nelayan pun tak semangat melaut.
Kisah itu kini jadi lagu lama sejak hadirnya SPBU Kompak di Essang. Di Era Rezim Presiden Joko Widodo, rakyat Essang merasakan kenikmatan layaknya orang Jakarta, bensin Premium seharga Rp 6.450.

“Ketika mereka tau ada program ini, mereka jadi semangat melaut untuk cari ikan. Betul ini, biasa beli di pengecer itu bisa sampai 15.000 perliter, tapi sekarang cuma 6ribuan,” ujar Jerry.

Dua kisah ini mewakili ribuan hingga puluhan ribu wilayah di Indonesia yang akhirnya merasakan program BBM Satu Harga.
Program yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo sejak 17 Oktober 2016 ini telah mencapai 165 titik daerah terdepan terluar dan tertinggal alias 3T. Tinggal 5 titik lagi maka target 170 titik BBM Satu Harga bisa tercapai.

Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) merupakan lembaga yang ditunjuk untuk mengawal program ini sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM No. 36 Tahun 2016 tentang Pecepatan Pemberlakuan Satu Harga JBT dan JBKP secara Nasional.

Dalam Permen ESDM ini, BPH Migas mempunyai tugas untuk menetapkan Badan Usaha untuk menyediakan dan mendistribusikan Jenis BBM Tertentu dan Jenis BBM Khusus Penugasan pada Lokasi Tertentu.

Kepala BPH Migas Fanshurullah menyatakan sisa lima titik target BBM Satu Harga akan direalisasikan pada akhir September 2019 mendatang, sehingga target bisa dipenuhi.

“Pelaksanaan BBM Satu Harga ini sudah menjangkau kurang lebih 571.991 kepala keluarga yang berada di 164 kecamatan di Indonesia,” ujar Fanshurullah belum lama ini.

Menurut Fanshurullah, program BBM Satu Harga akan lebih digenjot dalam lima tahun ke depan, sesuai dengan arahan dari Presiden Jokowi. Pemerintah menargetkan penambahan BBM Satu Harga di 330 titik hingga 2024 mendatang, sementara lembaga penyalur pun bertambah menjadi 500 dalam waktu lima tahun ke depan.

Lebih rinci, pemerintah berupaya menambah 77 penyalur BBM Satu Harga pada 2020, kemudian ditambah 77 lagi pada 2021, lalu 2022 sebanyak 73 penyalur, dan 60 penyalur pada 2024.

“BPH Migas terus menjaga dan meningkatkan sinergi serta berkoordinasi dengan Kementerian ESDM , Pemerintah Daerah, Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) dan Badan Usaha pelaksana penugasan BBM 1 Harga yaitu PT. Pertamina (Persero) dan PT. AKR Corporindo, Tbk untuk mewujudkan dan mengawasi program BBM 1 Harga guna mewujudkan sila kelima Pancasila khususnya keadilan ketersediaan, keadilan distribusi, dan keadilan harga BBM untuk masyarakat di seluruh NKRI” tegas Fanshurullah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *