oleh

Amanat NU di Hari Santri Nasional: Jati Diri Santri Ialah Moralitas dan Akhlaq Pesantren

IndonesiaBangsaku.com – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mengeluarkan amanat Hari Santri Nasional. 

Hal itu dinyatakan oleh Robikin Emhas Ketua PBNU lewat akun twitternya pada pukul sekira 10.00 WIB, Senin (21/10/2019).

Amanat Ketua Umum Pengurus Besar @nahdlatululama pada peringatan Hari Santri tanggal 22 Oktober 2019 #HariSantri2019 #hsn2019 @nu_online @Official_Ansor @PPLPBINU @Netizen_NUjatim @Generasi_MudaNU
@NU_designcenter @TV9NUsantara @na_dirs @Ayang_Utriza https://t.co/Nnsa09Wpmq” begitu ungkapannya di twitter dengan upload beberapa gambar surat amanat hari santri dari PBNU

Pengumuman Hari Santri Nasional
Pengumuman Hari Santri Nasional (Capture Twitter Ketua PBNU Robikin Emhas,)

Poin poin penting Isi amanat  tersebut antara lain:

Ditengah revolusi gelombang keempat (4.0) santri harus kreatif, inovatif dam adaptif terhadap nilai nilai baru yang baik sekalogus teguh menjaga tradisi dan nilai-nilai agama yang baik. 

Santri tidak boleh kehilangan jati dirinya sebagai Muslim yang berakhlaqul karimah yang hormat kepada kiai dan menjunjung tinggi ajaram para leluhur terutama dakwah dan pemberdayaan walisongo.

Santri disatukan oleh asasiyat (dasar dan prinsip perjuangan), khalfiyat (background sejarah, dam ghayat (tujuan).

Santri dituntut untuk cerdas mengembangkan argumem islam moderat yang relevan, kontekstual dan membumi, dan kompatibel dengan semangat membangun simbiosis islam dan kebangsaan.

Jati diri santri ialah moralitas dan akhlaq pesantren dengan kiai sebagai simbol kepemimpinan spiritual (qiyadah ruhaniyah),

Santri melekat sebagai stempel seumur hidup membingkai moral dalam akhlaq pesantren.

Tujuan pengabdian santri adalah meninggikan kalimat Allah yang paling luhur (li i’lal kalimatillah allati hiya al ulya) yaitu tegaknya islam rahmatan lil alamin.

Islam yang diperjuangkan bukan sekedar akidah dan syariah tetapi ilmu dan peradaban (tsaqofah wal hadlarah), budaya dan kemajuan (tamaddun) dan juga kemanusiaan (wal insaniyah).

Islam dalam etos santri adalah keterbukaan, kecendikiaan, toleransi, kejujuran, dan kesederhanaan. Semangat inilah yang diwariskan oleh salafush shalih yang telah mencontohkan cara membela agama yang benar.

Islam tidal boleh dengan pekik takbir di jalan jalan, dengan kerumunan massa yang mengibar ibarkan bendera, dengan caci maki dan sumpah serapah. Islam harus dibela dengan ilmu pengetahuan dan peradaban itulah cara bela islam yang benar.

Benarlah peringatan Imam Ghazali dalam Tahafutul Falasifah

“kehancuran agama dari para pembela yang tidak tahu caranya membela itu lebih besar daripada kehancuran agama dari para pencela,”

Santri mewarisi legacy yang ditinggalkan olrh para ulama di abad keemasan islam,  kebangkitan islam akan sangat ditentukan olrh kiprah dan peranan ka santri.

Amanat ini ditandatangani ole Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH. Sa’id Aqil Siradj, MA.

Tweet tersebut juga disukai oleh Nadirsyah Hosen Dosen Dosen Monash University.

Sejarah Hari Santri Nasional

Penetapan Hari Santri Nasional ini disahkan oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) pada tahun 2015 lalu melalui Keppres Nomor 22 tahun 2015.

Penetapan tersebut merupakan bentuk penghargaan pemerintah terhadap peran para santri dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Menurut Jokowi, kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 tidak lepas dari semangat jihad yang ditunjukkan oleh kaum santri.

Banyak pihak yang bertanya-tanya alasan dipilihnya tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.

Menilik catatan sejarah, ternyata tanggal tersebut memiliki kaitan langsung dengan peristiwa paling bersejarah ketika bangsa Indonesia berjuang mempertahankan kemerdekaannya.

Peristiwa tersebut adalah deklarasi Resolusi Jihad yang dilakukan pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy’ari di Surabaya pada tanggal 22 Oktober 1945.

Pada hari itu, KH Hasyim Asy’ari menyerukan untuk ikut berjuang mencegah tentara Belanda kembali menguasai Indonesia melalui Netherlands Indies Civil Administration (NICA).

KH Hasyim Asy’ari menyerukan kepada santrinya bahwa perjuangan membela Tanah Air merupakan kewajiban bagi setiap Muslim.

“Membela tanah air dari penjajah hukumnya fardlu’ain atau wajib bagi setiap individu,” ujar KH Hasyim Asy’ari.

Seruan jihad yang dikobarkan oleh KH Hasyim Asy’ari ini membakar semangat para santri di kawasan Surabaya dan sekitarnya.

Para pejuang menyerang markas Brigade 49 Mahratta yang dipimpin Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby.

Serangan ini terjadi selama tiga hari berturut-turut, yaitu dari tanggal 27 hingga 29 Oktober 1945.

Terjadilan pertempuran sengit, Pasukan Inggris yang ditugaskan di kota Surabaya terjepit. Komandan mereka membujuk Soekarno untuk meredakan situasi. 

Tanggal 30 Oktober 1945 Soekarno datang dari Jakarta ke Surabaya dan berhasil meredakan amarah arek-arek Suroboyo.

Namun, belum lama Soekarno meninggalkan Surabaya, insiden kembali terjadi.

Jenderal Mallaby tewas di tanggal 30 Oktober itu.

Saat itu mobil yang ditumpanginya terkena ledakan granat dari pengawalnya sendiri saat hendak melindungi Mallaby dari kepungan Pejuang Indonesia.

Kematian Mallaby pun menyulut pertempuran berdarah lainnya di kota Surabaya, dan dikenal dengan Pertempuran 10 November 1945.

Inggris dan Sekutu mengerahkan kekuatan mereka dan menggempur Surabaya dari darat, laut dan udara. Perang ini mengakibatkan jatuhnya korban jiwa yang luas biasa banyak. 

Meski dari sisi Indonesia korban jiwa lebih banyak, namun sejarah mencatat perlawanan di Surabaya adalah yang paling heroik di semua pertempuran membela kemerdekaan. 

Bahkan, tentara Inggris yang sudah berpengalaman dan mengalahkan pasukan NAZI Jerman menganggap bahwa Surabaya adalah neraka bagi mereka.

Resolusi Jihad yang dideklarasikan KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 ini seolah mengingatkan kita mengenai peranan santri dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Santri yang kerap dikenal berkutat seputar urusan agama, ternyata mau ikut berjuang bersama pejuang Tanah Air.

Oleh karenanya, tak salah apabila Presiden Jokowi kemudian memilih tanggal ini sebagai Hari Santri Nasional.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *