oleh

Impor Migas Januari-November 2019 Turun 29,06 Persen

IndonesiaBangsaku.com – Impor migas secara kumulatif Januari-November 2019 menurun -29,06% (yoy) dibandingkan dengan Januari-November 2018, berkat sejumlah inisiatif pemerintah menekan impor sehingga perlu diperkuat pada tahun yang akan datang.

Dilansir dari data Badan Pusat Statistik, nilai impor migas pada Januari-November 2019 tercatat sebesar US$19,75 miliar mengecil dari Januari-November 2018 sebesar US$27,84 miliar. Adapun pada November 2019, total impor migas adalah US$2,13 miliar mengecil dari bulan sebelumnya sebesar US$1,75 miliar.

Secara lebih teperinci, penurunan impor migas disumbang oleh menurunnya nilai impor minyak mentah pada November 2019 sebesar US$661,3 juta dari periode yang sama tahun lalu, November 2018 sebesar US$857,6 juta (yoy). Hasil minyak juga mencatatkan penurunan, dari November 2018 sebesar US$1,70 miliar menjadi US$1,25 miliar (yoy) pada November 2019. Sementara itu untuk gas, mencatatkan impor pada November 2018 sebesar US$278,5 juta menjadi US$223,2 juta pada November 2019 (yoy).

Dari sisi volume, secara umum volume impor November 2019 kembali mencatatkan kenaikan 19,25% (mtm) atau 3,88% (yoy). Adapun perincian impor migas total adalah 16,22 juta ton (mtm) naik dari Oktober 2019 sebesar 13,60 juta ton, dan masih lebih besar dari volume impor November 2018 sebesar 15,61 juta ton (yoy).

Meski demikian, secara akumulatif Januari-November 2019, volume impor masih turun 5,54% (yoy). Pemicunya adalah penurunan volume impor migas sebesar 18,38% (yoy), dan impor non migas turun tipis hanya 0,33% (yoy).

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menyatakan dengan penurunan impor tersebut sekitar 5,54% (yoy) menandakan adanya efektivitas dari sejumlah program pemerintah. Misalnya saja dengan penerapan B20 dan B30 untuk menekan impor migas.

Meski demikian, nilai impor total naik jadi US$15,34 miliar atau turun 9,24% (yoy), meski volume cenderung naik 3,88% (yoy), di tengah rata-rata harga komoditas impor cenderung turun -12,63% (yoy).

“Ini menandakan, masih tingginya permintaan dari produk luar negeri untuk pasar domestik,” terang Andry kepada Bisnis.com, Senin (16/12/2019).

Dia menilai, pencatatan defisit neraca dagang November 2019 sebesar US$1,33 miliar tak bisa terhindarkan dari akibat kondisi nilai ekspor yang tertekan cukup besar 5,67% (yoy) meski volume ekspor cenderung naik 9,72% (yoy). Tecermin dari pencatatan kinerja nilai ekspor Januari-November 2019 dibandingkan Januari-November 2018 adalah -7,61%, dengan volume yang naik 7,85% (yoy).

“Penurunan ekspor ini juga menandakan besarnya dampak atas fluktuasi harga komoditas yang menjadi mayoritas dari produk ekspor Indonesia,” jelas Andry.

Dia menilai, secara bulanan ekspor Indonesia November 2019 juga turun -6,17% (mtm). Pasalnya, hanya ada tiga komoditas ekspor yang menyumbang kenaikan antara lain; lemak dan minyak hewan nabati sebesar 8,69% (mtm), serta kenaikan harga minyak CPO.

Oleh sebab itu, secara kumulatif, neraca dagang Januari-November 2019 masih mencatatkan defisit US$3,11 miliar, jauh lebih kecil dibandingkan dengan Januari-November 2018 sebesar US$7,62 miliar.

Ke depan, kata Andry, defisit transaksi berjalan diperkirakan menyempit jadi 2,6% dari PDB. Hal ini terindikasi berkat kebijakan moneter The Fed yang selama ini sudah melonggar, serta tensi perang dagang yang mulai mengecil. Selain itu, sampai akhir 2019 stabilitas rupiah diperkirakan sekitar Rp14.248 per dolar.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *