oleh

Wamenag: Era Keterbukaan Bawa Perubahan Pola Pikir

Wakil Menteri Agama RIZainut Tauhid menyoroti fenomena kenakalan remaja di Yogyakarta yang belakangan masih marak lewat berbagai aksi kejahatan jalanan yang dikenal dengan sebutan klitih.

Fenomena kenakalan remaja tersebut  terjadi karena adanya pola pikir yang keliru.

“Kenakalan remaja seperti (klitih) itu, dekadensi moral, penggunaan obat terlarang tak bisa lepas dari ekses atas perkembangan era yang makin terbuka saat ini,” kata Zainut saat hadir dalam forum bertajuk Peran Dan Tantangan Pendidikan Di Era Milenial di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Yogyakarta Sabtu, 25 Januari 2020.

Zainut menuturkan di era keterbukaan informasi yang sudah begitu luas ini, tak bisa dipungkiri, cara cara belajar kaum milenial pun telah banyak berubah.

Mereka lebih suka belajar langsung dari informasi informasi yang ingin mereka akses dari sumber sumber yang sekiranya bisa diperoleh atau punya keterikatan dengan diri atau kelompoknya. Seolah tak ada penyaring lagi pada sumber sumber informasi yang masuk itu.

“Yang jadi persoalan ketika akses informasi itu pesat masuknya, apa anak anak ini sudah punya benteng nilai memadai? Internet seperti pedang bermata dua, bisa berpengaruh positif bisa negatif,” papar Zainut.

Justru yang lebih dikhawatirkan, lanjut Zainut, jika di era keterbukaan informasi itu tak berhenti pada kenakalan remaja seperti klitih saja. Tapi juga merambah pada hal hal yang lebih mengkhawatirkan seperti masuknya nilai nilai radikalisme dan terorisme yang bisa berdampak panjang mengancam keutuhan bangsa.

“Pemerintah dalam hal ini memang akan terus bergerak bagaimana nilai nilai yang sesuai kepribadian bangsa dan agama bisa ditanamkan pada anak didik saat mereka berhadapan dengan era keterbukaan itu,” ujarnya.

Kepala MAN 1 Yogyakarta H. Wiranto dalam forum itu tak menampik jika sikap radikalisme menjadi tantangan sendiri yang harus dihadapi serius oleh para pemangku kepentingan lembaga pendidikan.

Menurutnya, pola pembelajaran agama yang selama ini dilakukan lebih ke arah literasi perlu diperbaharui agar semakin membekali anak didik tentang nilai nilai keagamaan lebih utuh dan bijaksana.

“Kami melihat mungkin yang masih perlu untuk era seperti ini bagaimana menumbuhkan sikap nyantri untuk sekolah seperti MAN ini,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid mendesak pihak lembaga pendidikan seperti MAN dan sekolah lain lebih aktif pada pengawasan anak asuhnya yang sudah memiliki pola belajar baru yang lebih maju. Ia mengharapkan kemajuan teknologi saat ini bisa lebih banyak memberi kontribusi positif daripada negatifnya.

Zainut pun sempat memuji pengelolaan MAN 1 Yogyakarta yang mana sebagai lembaga pendidikan berbentuk madrasah masih update mengikuti perkembangan jaman demi membimbing anak asuhnya. “Saya merasa bangga setelah meninjau perpustakaan dan laboratorium di MAN 1 Yogyakarta yang sudah begitu maju, ini bentuk perhatian serius pada dunia pendidikan sehingga anak didik nyaman belajar di sekolah dan terpacu meningkatkan prestasinya,” jelas Wakil Menteri Agama RIZainut Tauhid.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *