oleh

Disiplin Kunci Masuki New Normal

IndonesiaBangsaku.com – Penambahan kasus positif virus corona (Covid-19) di Indonesia dalam dua hari terakhir di atas 1.000 orang per harinya disebut-sebut akibat meningkatnya uji spesimen. Ahli epidemiologi dari Griffith University Australia Dicky Budiman juga menegaskan hal itu. Pada Selasa (9/11) tercatat ada 16.181 spesimen yang diuji dan Rabu mencapai 17.757. Angka uji spesimen pada dua hari tersebut tercatat yang paling tinggi di Indonesia selama ini. ”Upaya pemerintah daerah meningkatkan cakupan testing uji Korona ini layak mendapat apresiasi,” kata Dicky, Kamis (11/6).

Dicky menyebut, pemerintah daerah perlu mendapat apresisasi karena peningkatan uji spesimen akan memudahkan pemerintah dalam menemukan kasus Korona. Pemerintah dapat lebih mudah melacak dan mengisolasi orang-orang yang terinfeksi Korona. ”Tanpa adanya testing yang masif dan agresif, kita akan membiarkan orangorang yang terinfeksi membawa virus ke mana-mana,” kata Dicky.

Selain peningkatan jumlah spesimen, Dicky menilai lonjakan kasus juga akibat belum berubahnya perilaku masyarakat dalam mencegah penularan Korona. Padahal, disiplin merupakan kunci utama untuk memasuki New Normal. ”Semakin masyarakat tidak disiplin dan abai terhadap pencegahan, maka hasil testing akan cenderung meningkat,” imbuhnya. Semetara itu, ahli epidemiologi asal Universitas Padjadjaran Panji Fortuna Hadisoemarto menilai, melonjaknya kasus Korona dalam dua hari terakhir sebagai imbas dari meningkatnya aktivitas masyarakat di luar rumah saat Lebaran 2020. Lonjakan kasus Korona terjadi dua pekan setelah Lebaran berlangsung. ”Bukan hanya aktivitas mudik, tapi juga aktivitas di dalam suatu wilayah, khususnya di pusat-pusat perbelanjaan,” kata Panji.

Selain itu, Panji menduga masyarakat kini semakin sering beraktivitas di luar rumah tanpa mematuhi protokol kesehatan karena salah memahami istilah tatanan normal baru atau new normal yang disampaikan pemerintah. Menurut Panji, masyarakat mengira tatanan normal baru merupakan kondisi yang sama sebelum adanya pandemi Covid-19.

Panji justru menyarankan agar pemerintah menunda sementara pelaksanaan tatanan kenormalan baru (new normal) lantaran ledakan kasus baru Covid-19 dalam dua hari terakhir sangat signifikan. Selama penundaan, pemerintah harus memantau penyebaran Korona hingga sepekan ke depan. Meski menyarankan penundaan, namun Panji meminta sosialisasi terkait tatanan normal baru tetap lebih diefektifkan. Menurutnya, masyarakat masih salah memahami istilah kenormalan yang disampaikan pemerintah. ”Ini hipotesis ya, mispersepsi kalau new normal itu kondisinya sama dengan sebelum ada Covid-19 dan sudah bisa dimulai sekarang,” kata Panji.

Tes Massal

Hal senada disampaikan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Penambahan kasus Covid-19 di Jawa Tengah cukup tinggi setelah 139 orang dinyatakan positif dikatakan Ganjar tak terlepas dari banyaknya tes massal yang dilakukan di seluruh kabupaten/kota. Pasca Lebaran kemarin, Ganjar Pranowo langsung memerintahkan pelaksanaan tes massal dengan mengirim rapid kit ke seluruh kabupaten dan kota di Jawa Tengah. Selain banyaknya pemudik, belum semua klaster penularan secara tuntas dilakukan penelusuran. ”Bahwa ada peningkatan iya, peningkatanmya di kabupaten tertentu iya. Seperti di Kota Semarang, yang terjadi di Pasar Rejomulyo, Pasar Karanganyu. Bahkan bukan hanya rapid, tapi PCR tes. Jadi langsung saja hasilnya,” kata Ganjar, kemarin.

Totalnya sampai saat ini sebanyak 38.111 rapid tes telah dibagikan oleh Pemprov Jateng, yang dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama, jumlah rapid test yang terdistribusi sebanyak 27.011. Rinciannya, untuk dinas kesehatan kabupaten/ kota sebanyak 24.641, sementara untuk rumah sakit sejumlah 2.370. Dari jumlah tersebut yang sudah dilakukan pemeriksaaan sebanyak 22.337, yang reaktif terdapat 809 orang, non reaktif ada 21.528.

Adapun tahap kedua yang distribusikan ke 35 kab/kota sejumlah 11.100. Sampai saat ini sudah dilakukan pemeriksaan sebanyak 3.411. 94 di antaranya reaktif dan 3.317 non reaktif. Saat ini rapid test yang tersisa sebanyak 12.363. ”Rapid itu dipakai untuk pengecekan dan memang diketahui (penularannya) bukan hanya dari wilayahnya saja tapi berasal dari berbagai tempat,” kata Ganjar. Namun demikian, peningakatan uji spesimen saat ini dinilai masih belum memenuhi standar yang dikeluarkan organisasi kesehatan dunia (WHO). Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, Dr dr Tjatur Sembodo MKes mengatakan, WHO merekomendasikan tes harus dilakukan dengan laju 1 per 1000 jumlah penduduk per pekan.

Dengan perhitungan demikian, jumlah warga yang semestinya sudah menjalani tes Covid dari yang disyaratkan mencapai 4,9 juta. Begitupun dengan kasus yang terdeteksi, yang dengan perhitungan itu bisa mencapai 386 ribu. ”Yang sudah dites baru sekitar 367 ribu atau hanya 7,47 persen. Setiap tes memang memberikan reaksi positif. Maka harusnya jika dengan metode yang ditetapkan WHO, kasus yang bisa terdeteksi di negara kita diperkirakan bisa mencaapi 386 ribu, sekarang baru 28 ribu,” kata Tjatur, kemarin.

Dia membandingkan dengan Rusia yang sudah melakukan tes covid dengan persentase 400 persen lebih. Dengan kata lain, warga negara setempat sudah menjalani tes hingga empat kali. ”Begitu juga dengan Amerika Serikat yang persentasenya mencapai 300 persen lebih. Artinya warga di sana sudah menjalani tes Covid hingga tiga kali,” ujarnya. Tjatur juga memaparkan terkait tren waktu dalam epidemiologi. Pertama, tren jangka panjang, yakni berlangsung lebih dari satu tahun. Kedua, tren jangka pendek yang berlangsung dalam hitungan jam, hari dan bulan atau memperhitungkan masa inkubasi penyakit. Tren berikutnya siklus, yang memungkinkan tren jangka panjang dan pendek membentuk siklus. Tren ini mengacu berulangnya suatu kejadian, interval atau frekuensi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *