oleh

Ketika Penolakan Rapid Test Masih Saja Terjadi

IndonesiaBangsaku.com – Kemarin, musisi Bali Jerinx ikut dalam aksi tolak rapid test dan swab test yang dilangsungkan di kawasan Renon, Denpasar, Bali. Penolakan terhadap rapid test atau tes cepat bukan kali ini saja terjadi. Tak hanya di Bali, penolakan rapid test pernah terjadi Kediri, Serang, Jakarta dan di sejumlah tempat lainnya.

Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 bersama tokoh masyarakat Bali berencana memanggil pihak-pihak yang menyuarakan penolakan terhadap rapid test dan swab test PCR di Bali. Mereka, pihak-pihak yang menolak ini, akan diberi pemahaman dan penjelasan mengenai pentingnya rapid test dan swab test serta pengertian bahwa bahaya Covid-19 itu nyata adanya.

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengungkapkan telah berkoordinasi dengan sejumlah tokoh lokal di Bali mengenai adanya aksi penolakan rapid test dan swab oleh sejumlah pihak ini. Nantinya pemanggilan akan dibantu oleh tokoh masyarakat setempat.

“Mengenai Bali, kami sudah berkoordinasi dengan beberapa tokoh di Bali, mereka yang sejauh ini masih menentang penggunaan rapid atau swab PCR hendaknya dipanggil dan diberi penjelasan bahwa PCR test, termasuk untuk sementara rapid karena belum semua daerah memiliki PCR test, adalah langkah kita untuk skrining dan ketahui seseorang menderita Covid,” jelas Doni usai mengikuti rapat terbatas bersama Presiden Jokowi, Senin (27/7).

Doni menjelaskan, rapid test dan swab merupakan salah satu jurus yang ditempuh pemerintah untuk melakukan skrining secara masif. Dengan cara ini, maka bisa didapatkan dengan jelas sebaran penderita Covid-19. Bagi yang positif tentunya akan diminta melakukan isolasi mandiri atau diberi perawatan bila diperlukan. Semakin luas skrining dilakukan, maka semakin cepat pula penanganan Covid-19 dan angka penularan bisa ditekan.

“Kalau dia masih sehat dan diperiksa positif, ini dapat membahayakan orang lain termasuk keluarga. Kalau seandainya seorang muda memiliki mobilitas tinggi dan berada di rumah bersama keluarga yang rentan, sangat mungkin keluarga akan tertular. Karenanya, upaya peningkatan kesadaran kolektif terkait ancaman Covid ini tak boleh berhenti,” kata Doni.

Doni menegaskan, masyarakat harus menyadari kalau Covid-19 bukan sebuah konspirasi. “Masyarakat harus sadar bahwa ini bukan konspirasi. Sejarah tentang flu spanyol yang melanda Tanah Air pada tahun 1918 hendaknya bisa dijadikan sebagai pedoman dan pelajaran,” jelas Doni.

Doni pun mengaku tak tahu kapan penambahan kasus positif di Indonesia mencapai puncaknya. Per hari ini, tren masih terlihat menanjak tanpa ada tanda-tanda melandai.

Menurutnya, satu-satunya solusi adalah kesadaran bersama bahwa ancaman Covid-19 ini benar-benar ada agar seluruh masyarakat secara serentak menjalankan protokol kesehatan. Cara itu dinilai paling ampuh untuk menekan penularan.

“Yang tersulit adalah jaga jarak dan hindari kerumunan. Dan kalau setiap orang mampu mengontrol diri dan satu sama lainnya saling mengingatkan, maka proses penularan ini bisa kita kurangi bahkan kita bisa cegah. Apalabila satu sama lain betul-betul saling jaga jarak dan tidak mendekati ke tempat kerumunan,” katanya.

Doni mengingatkan, Covid-19 sendiri telah merenggut lebih dari 600.000 nyawa di seluruh dunia dan lebih dari 4.700 jiwa di Indonesia. Ia pun menegaskan bahwa Covid-19 adalah nyata adanya dan bukan rekayasa.

“Dalam beberapa pekan terakhir angka kasus positif rata-rata 1.000 kasus per hari bahkan bisa lebih dari 2.000 kasus. Inilah pentingnya kita semua saling mengingatkan bahwa tidak cukup disiplin sendiri, tanggung jawab kita mengajak yang lain untuk disiplin,” kata Doni.

Doni meminta anggota masyarakat untuk mengajak minimal dua anggota masyarakat lainnya setiap harimematuhi protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Dia kembali mengibaratkan virus corona tipe baru yang menyebabkan penyakit Covid-19 itu seperti malaikat pencabut nyawa.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *