oleh

Islam Melarang Gerakan Separatisme dapat Menyebabkan Kerusakan dan Memecah Belah Persatuan

 

Organisasi Papua Merdeka (Free Papua Movement) atau lebih dikenal dengan nama OPM berdiri bulan Desember 1961 untuk menentang pengusaaan Republik Indonesia atas Irian Jaya (sekarang Papua dan Papua Barat). Mereka mengklaim bahwa Papua merupakan wilayah kedaulatan yang berdiri sendiri dan ingin membentuk negara dan bangsa yang merdeka. Bendera Bintang Kejora (Organisasi Papua Merdeka). Dari sisi hukum Indonesia, OPM sudah bisa dikategorikan sebagai organisasi terlarang di Indonesia, karena memiliki ideologi untuk memisahkan diri dari NKRI.

Sebagai Organisasi, OPM telah menempuh jalur diplomatik melalui forum-forum Internasional, memiliki bendera (Bintang Kejora), lagu kebangsaaan “Hai Tanahku Papua” dan lambang negara. Rekam jejak mereka dalam memperjuangkan kemerdekaan Papua tidak main-main. Terbukti dengan masif dan sistematisnya propaganda serta diplomasi yang dilakukan dalam level regional Pasifik maupun internasional. gerakan separatis itu nggak berdiri sendiri. Gerakan separatis itu mempunyai link up ke pihak internasional. Hal ini bukan saja terjadi di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia dan seluruh tempat. Kalau ada gerakan separatis pasti memiliki link up ke internasional negara tertentu. Biasanya tokoh-tokoh penggeraknya di negara tertentu dari sana mendapatkan bantuan dana dan bantuan politik.

Dalam pandangan Islam, menjaga persatuan kesatuan merupakan suatu kewajiban, dan memisahkan diri darinya merupakan keharaman. Oleh karenanya Islam menetapkan sanksi yang sangat tegas berupa had/perang bagi siapapun yang melakukan tindakan bughat/makar terhadap daulah/negara. Hanya saja perang disini bukan untuk dihabisi, melainkan sebagai bentuk pelajaran. Jika melihat pada sejarah Islam, gerakan separatisme sudah terjadi sejak pada masa kenabian dan tragedi separatisme yang paling mencolok ialah pada masa sahabat Ali bin Abi Thalib yakni terjadi pemberontakkan oleh kaum Khawarij di susul dengan perang siffin yang di pimpin oleh Muawiyah bin Abi Sufyan demi meruntuhkan kekuasaan Ali. 

Disebutkan dalam shahih Muslim no.3437, kitab kepemimpinan, bab wajibnya melazimi jamaah kaum muslim saat muncunya fitnah. Yang artinya “Barang siapa yang keluar dari ketaatan dan memisahkan diri dari sebuah jamaah kemudian mati, maka matinya seperti matinya orang jahiliyah dan barang siapa yang terbunuh di dalam bendera kefanatikan, balas dendam karena kefanatikan dan berperang karena kabangsaan maka dia tidak termasuk ummat ku dan barang siapa yang keluar dari ummatku kemudian menyerang ummatku dan membunuh orang baik maupun orang yang fajir dan tidak memperdulikan orang mukminnya serta tidak pernah mengindahkan janjinya yang telah di buat maka dia tidak termasuk golonganku.”

Secara sekilas kita memahami hadis di atas bahwasannya tindakan orang yang memisahkan diri dari sebuah kelompok sangatlah di kecam dengan jelas di dalam ajaran islam, karena melihat di balik itu pasti terjadi dampak yang amat besar merugikan bagi kedua belah pihak mulai dari pembunuhan, perusakan dan bahkan lebih dari itu.

Islam melarang gerakan separatisme ataupun terorisme, karena dapat menyebabkan kerusakan dan memecah belah persatuan, Apalagi gerakan OPM adalah gerakan bersenjata seperti tentara yang ingin memisahkan diri dari NKRI. Maka kewajiban negara adalah mendakwahi mereka agar mereka menyadari kekeliruannya dan memerangi jika mereka tidak mau taat.

Disamping itu, mencegah segala bentuk intervensi asing, memutus kontak/hubungan kerja sama warga negara dengan pihak luar negeri serta menerapkan kebijakan satu pintu melalui departemen luar negeri adalah sederet upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah gerakan separatis ini.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *