oleh

Mewaspadai Gerakan dan Jubah Baru Eks FPI di Tengah Masyarakat

IndonesiaBangsaku.com – Sejumlah respon dan orkestrasi pernyataan mengalir sejak pemerintah melalui Menkopolhukam memutuskan pelarangan aktivitas FPI. Aziz Yanuar selaku kuasa sekretaris bantuan hukum FPI merespon keputusan tersebut dengan rencana pembentukan organisasi baru. Pembubaran merupakan upaya mengalihkan perhatian pengusutan kasus terbunuhnya 6 laskar FPI. Maklumat tidak akan bisa menghentikan pihaknya menjalankan misi dan menyebarluaskan pesan-pesan. Pernyataan tersebut terdukung oleh respon dari sejumlah tokoh oposisi hingga pengamat yang cenderung tak mendukung keputusan pemerintah.

Di sisi lain, sejumlah analis dan tokoh politik juga turut meramaikan isu pembubaran FPI. Analis terorisme dan intelijen UI Stanislaus Riyanta menyatakan bahwa pemerintah perlu menyikapi potensi aksi lanjutan yang dipimpin Rizieq Shihab. Pembubaran harus diikuti sanksi saat kelompok tersebut kembali berkegiatan. Analis politik lembaga Indo Strategi Research and Consulting Arif Nurul Imam menyatakan bahwa secara hukum keputusan pembubaran bisa menual polemik baru, karena tidak lantas mematikan ideologi pengikutnya. Perlu diwaspadai munculnya gerakan klandestin atau bawah tanah. Politikus Hanura Inas N Zubir menyatakan bahwa menjadikan FPI sebagai ormas terlarang merupakan amanat demokrasi Pancasila, FPI adalah ormas yang AD/ART nya menetapkan visi dan misi syariat Islam secara kafah di bawah naungan khilafah Islamiah. Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI) Adi Prayitno menilai bahwa pemerintah tidak membubarkan FPI karena sudah bubar sebelum dibubarkan, FPI tidak memenuhi unsur persyaratan. Artinya tanpa dibubarkan sekalipun FPI sudah membubarkan diri secara legal formal. Sedangkan Wakil Ketua Umum PImpinan GP Ansor Mohammad Haerul Amri menyatakan bahwa Ansor mengajak kepada eks kader-kader FPI untuk melanjutkan perjuangannya secara baik dengan bergabung di ormas Islam yang memiliki pandangan keislaman moderat (washatiyah). Cara ini menjadi jembatan terbaik dan bisa menghindari aksi-aksi yang tidak dibenarkan.

Secara kasat mata, ormas FPI memang telah dilarang, namun tak ada yang bisa memenjarakan pikiran manusia. Keberadaan FPI sangat lekat dengan mobilisasi massa yang berdasar pada ideologi. Penghentian langkah FPI bukan akhir dari sikap tegas pemerintah dalam upaya memberantas potensi radikal di Indonesia. Sederet rencana hingga strategi tengah dipersiapkan oleh mereka yang saat ini sudah tak diakui. Dampak dari pembubaran akan dihadapkan pada isu demokrasi dan kebebasan berpolitik. Kelompok tersebut yang selama ini bertolak belakang dengan demokrasi telah memanipulasinya guna melindungi diri dari upaya pemerintah. Peneliti LIPI Wasisto Raharjo Jati menyatakan bahwa ke depan bisa saja mereka mendirikan organisasi FPI versi baru, istilahnya neo FPI atau FPI Perjuangan, mereka akan berkembang sebagai organisasi lintas kepentingan yang sifatnya populis. Satu hal yang membuat mereka besar karena berlindung di balik jubah agama yang segaja digunakan untuk menarik simpati umat Islam.

Langkah yang dilakukan pemerintah menunjukkan bahwa negara hadir untuk melindungi warganya dari ancaman tindak kekerasan, provokasi, sweeping sepihak, persekusi, dan tindakan-tindakan intoleran yang selama ini dilakukan oleh FPI. Di sisi lain, diperlukan kewaspadaan untuk mengantisipasi strategi gerakan kamuflase, metamorfosis dan infiltrasi kelompok FPI serta loyalisnya ke dalam masyarakat pasca pemberhentian aktivitas dan larangan penggunaan simbol FPI di seluruh Indonesia. Cara yang paling efektif adalah menumbuhkan dan mengamalkan islam yang rahmatan lil alamin dan islam wasathiyah yang menjaga dari sikap melampaui batas (ifrath) dan ekstrem (tafrith).

Negara tidak boleh tunduk dengan organisasi, kelompok, dan individu yang intoleran dan radikal. Setiap organisasi, kelompok, atau individu masyarakat di Indonesia, harus tunduk pada hukum yang berlaku. Tindakan tegas sudah sepatutnya diberikan kepada mereka yang melawan atau menympang dari koridor hukum. Ketahanan ideologi menjadi instrumen paling penting untuk mempersatukan bangsa. [LT]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *