oleh

Jokowi Minta Terapkan PPKM Berskala Mikro, Menko: Level Sampai Kecamatan, Kelurahan, Desa, RT, hingga RW

IndonesiaBangsaku.com – Pemerintah dalam waktu dekat akan menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berskala mikro atau tingkat lokal. Targetnya sampai ke wilayah terkecil.

“Kita lihat beberapa daerah sudah mengalami penurunan. Yakni DKI Jakarta dan Jawa Tengah dalam seminggu terakhir. Tetapi Presiden Joko Widodo minta supaya lebih mikro lagi,” kata Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Jakarta, Jumat (5/2).

Namun, Airlangga tidak menjelaskan secara detail mengenai penerapan PPKM berskala mikro tersebut. Yang pasti, lanjutnya, levelnya bukan hanya di kabupaten atau kota. Melainkan sampai kecamatan, kelurahan, desa, RT, hingga RW.

Dia menuturkan, pemerintah masih akan melakukan rapat dengan para pimpinan daerah. Diharapkan PPKM berskala mikro ini bisa segera diimplementasikan di lapangan. “Sedang disiapkan secara keseluruhan. Termasuk menetapkan langkah-langkah lanjutannya seperti apa,” paparnya.

PPKM berbasis mikro ini bertujuan agar kegiatan penanganan COVID-19 bisa efektif. Targetnya menurunkan angka kasus aktif ekonomi naik menuju positif pada kuartal I.

“Keseimbangan pemerintah untuk melakukan rem ketika terjadi kenaikan angka kasus akan mampu mendorong perekonomian masuk dalam jalur positif. Itu arahan Presiden yang perlu diterjemahkan untuk kelanjutan kegiatan penanganan COVID-19,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satgas COVID-19 Nasional Brigjen TNI (Purn) dokter Alexander K Ginting mengatakan, PPKM untuk menekan laju kasus COVID-19 harus berskala mikro. Yakni tingkat desa atau kelurahan.

“Sekarang ini sudah terjadi transmisi di komunitas. Sudah ada di keluarga. Karena itu, intervensinya harus sampai ke daerah yang paling jauh. Termasuk pedesaan,” kata Alexander di Jakarta, Jumat (5/2).

Menurutnya, Satgas COVID-19 mencatat Januari 2021 adalah bulan dengan jumlah kasus kumulatif bulanan tertinggi jumlah kematian. Yaitu 7.590 kasus per 30 Januari 2021.

Sedangkan selama 12 pekan berturut-turut sejak minggu kedua November 2020, tren jumlah kasus aktif juga terus bertambah.

“Sejak pertama kali kasus COVID-19 tercatat di Indonesia pada Maret 2020 sampai bulan ke-10, penularan COVID-19 awalnya berupa imported cases,” paparnya.

Kemudian transmisi terjadi di perkantoran. Selanjutnya berkembang sampai di unit terkecil, Yakni keluarga. Penularan juga telah terjadi sampai ke desa atau kelurahan.

“Untuk menekan laju transmisi, upaya penanganan juga harus dilakukan pada skala mikro. Sampai unit terkecil di dalam komunitas. Yaitu keluarga,” tuturnya.

Alexander juga menekankan perlunya pelaksanaan secara ketat pada upaya 3M (Memakai Masker, Mencuci Tangan, Menjaga Jarak) dan 3T (testing, tracing, treatment). Tujuannya agar PPKM berskala mikro bisa efektif.

“Protokol kesehatan harus dilakukan sebagai sebuah kesadaran dan kebiasaan bagi masyarakat,” pungkasnya.

Satgas Penanganan COVID-19 optimistis kebijakan ini akan berdampak signifikan dalam penanganan pandemi COVID-19.

“Terlihat dalam dua pekan ini PPKM, memang ada perubahan. Namun belum dapat dikatakan berhasil. Tetapi, Satgas optimistis PPKM akan berdampak signifikan lagi. Terutama kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan 3M. Jika dilakukan secara disiplin, hasilnya akan lebih baik,” kata Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito di Jakarta, Jumat (5/2).

Berdasarkan hasil analisis data PPKM dua pekan terakhir, kasus aktif masih menunjukkan tren fluktuatif. Namun grafiknya melandai. Perbandingannya, pada dua pekan pertama Januari 2021 atau sebelum PPKM, terdapat selisih sebesar 1,76 persen. Sedangkan pada dua pekan periode PPKM, selisih kasus aktif 0,45 persen.

Terkait keterisian tempat tidur ruang isolasi rumah sakit rujukan COVID-19 secara nasional, lanjut Wiku, terjadi penurunan persentase yang cukup drastis.

“Selisihnya, pada dua pekan pertama Januari sebesar 0,72 persen. Sedangkan setelah PPKM, penurunannya jauh lebih besar menjadi 8,1 persen. Bahkan angka ini hampir 12 kali lipat dari selisih sebelumnya,” papar Wiku.

Dikatakan, terdapat peningkatan tajam pada hari kesembilan pelaksanaan PPKM. Yaitu mencapai 69,19 persen. Namun angkanya kembali menurun menjadi 6,23 persen hingga berada di angka 62,96 persen pada akhir pekan kedua PPKM alias akhir Januari 2021.

“Pemerintah melakukan intervensi dengan menambah tempat tidur di ruang isolasi dan ruang ICU rumah sakit rujukan,” ucapnya.

Wiku menuturkan, perkembangan kasus aktif harian belum menurun. Hanya menunjukkan tanda melandai. Untuk itu, diharapkan PPKM yang masih berjalan hingga dua pekan ke depan dapat dilaksanakan lebih efektif dan disiplin.

“Sehingga dapat menekan penularan COVID-19 di masyarakat. Karena itu, pembatasan mobilitas dan penegakan kedisiplinan protokol kesehatan harus dilakukan dengan tegas. Pembatasan kegiatan baru bisa dikatakan berhasil jika mampu menurunkan angka kasus positif mingguan,” tutupnya. (rh/fin)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *