oleh

Mendukung Penyelenggaraan PON XX 2021 di Papua Guna Meningkatkan Persatuan Bangsa

Tenaga Ahli Komisi X DPR RI, Hasan Basri menulis di media online Kumparan (3/4/2020) dengan judul “PON Ajang Memupuk Persaudaraan, Persatuan untuk membangun Karakter Bangsa”.

Dalam tulisannya, Hasan mengatakan bahwa Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-XX akan berlangsung di Papua. Menurutnya dalam catatan sejarah, gagasan awal dilaksanakannya PON adalah mencari bibit atlit berbakat di seluruh penjuru negeri untuk mempersiapkan diri dalam keikutsertaan Asian Games pertama kali tahun 1951 dan Olimpiade Musim Panas Helsinksi tahun 1952. Selain itu, semangat yang digelorakan melalui PON adalah memupuk persaudaraan, persatuan membangun karakter bangsa melalui olahraga.

UU No. 3 Tahun 2005 Tentang Sistem Keolahragaan Nasional (UU SKN), hadir dengan tujuan memelihara dan meningkatkan kesehatan dan kebugaran, prestasi, kualitas manusia, menanamkan nilai moral dan akhlak mulia, sportivitas, disiplin, mempererat dan membina persatuan dan kesatuan bangsa, memperkukuh ketahanan nasional, serta mengangkat harkat, martabat, dan kehormatan bangsa.

PON di Indonesia diadakan setiap 4 tahun sekali oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan diikuti seluruh provinsi di Indonesia. Sejak pertama kali diadakan di Kota Surakarta tahun 1948, PON telah diselenggarakan 19 kali kecuali PON ke-4 yang gagal diselenggarakan karena G30S tahun 1965.

Penyelenggaraan PON ke-XX tahun 2020, sudah ditetapkan di Provinsi Papua yang sebelumnya berhasil memenangkan bidding sebagai tuan rumah penyelenggara, mengalahkan Bali dan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Provinsi Papua memperoleh 66 suara pada Rapat Anggota Tahunan KONI. Tuan rumah PON ditetapkan melalui SK Menteri Pemuda Olahraga No. 0110 tahun 2014. Tercatat, Provinsi Papua pertama kali ikut adalah pada penyelenggaraan PON ke-VII Tahun 1969 di Jawa Timur.

PON ke-XX adalah Sejarah untuk Papua

Menurut Hasan Basri, menjadi tuan rumah PON ke-XX adalah sejarah untuk Papua, mengingat selama ini pelaksaaan PON hanya berputar di wilayah barat Indonesia dan pulau Jawa. Penyelenggaraan PON di Papua dinilai memiliki nilai strategis dari sisi percepatan pembangunan di wilayah Provinsi Papua yakni:

Pertama, dari sisi ekonomi akan semakin berkembang melalui pembangunan infrastruktur jalan, jembatan, bandar udara dan semakin meningkat sektor informal seperti hotel, restoran dan jasa pariwisata.

Kedua, dari sisi sosial-budaya, akan terjadi interaksi sosial yang massive, dimana masyarakat Papua akan dikunjungi dan berinteraksi dengan saudara-saudara sebangsanya dari seluruh wilayah Tanah Air.

Ketiga, dari sisi politik, akan mengembalikan kepercayaan masyarakat Papua terhadap pemerintah nasional sekaligus mengukuhkan rasa nasionalisme Indonesia di kalangan masyarakat Papua. Meskipun fasilitas olahraga di Papua masih tertinggal ketimbang daerah lainnya yang juga mencalonkan diri sebagai tuan rumah, namun penyelenggaraan PON di Papua dinilai lebih sebagai upaya untuk memperkuat identitas kebangsaan dan solidaritas nasional.

Sebanyak 37 cabang olah raga akan dilombakan dan dipertandingkan yaitu Aerosport, Akuatik, Atletik, Anggar, Angkat Berat, Baseball, Biliard, Bermotor, Bola Basket, Bola Tangan, Bola Voli, bulutangkis, Catur, Kriket, Dayung, Gulat, Hoki, Judo, Karate, Kempo, Layar, Menembak, Muaythai, Panahan, Panjat Tebing, Pencak Silat, Rugby 7s, Selam, Senam, Sepak Bola, Sepak Takraw, Sepatu Roda, Taekwondo, Tarung Derajat, Tenis, Tinju, dan Wushu.
Oleh karena itu menurut Hasan untuk mengejar sukses penyelenggaraan PON harus dipersiapkan secara ekstra tentang tenaga akomodasi bagi seluruh atlet, official, volunter, pemangku kepentingan olahraga, tamu dan seluruh penggembira yang hadir pada PON ke-XX Papua.

Jumlah atlet diperkirakan sebanyak 6.442 orang, official sebanyak 3.221 orang dan SDM pertandingan (panitia pelaksana, wasit/juri, dewan hakim, technical delegate) sebanyak 2.860 orang, total keseluruhan sebanyak 12.523 orang. Sebagaimana hasil keputusan rapat terbatas 13 Agustus 2019, standar akomodasi khusus atlet dan official sesuai peraturan KONI, minimal dengan standar pelayanan hotel bintang tiga.

Selain sukses penyelenggaraan, PON Papua diharapkan sukses administrasi tanpa meninggalkan masalah hukum, sukses ekonomi dengan memanfaatkan momen PON ke-XX sebagai pembangkit peningkatan ekonomi masyarakat setempat, dan sukses pasca-event dengan penguatan rencana pengelolaan venue-venue pertandingan pada pasca penyelenggaraan PON ke-XX Papua. Sehingga infrastruktur olahraga yang telah terbangun tidak terbengkalai dan dapat bermanfaat secara maksimal bagi kemajuan olahraga di daerah.

Sementara itu Moses Waker, Mahasiswa Papua tinggal di Gorontalo menulis di neraca.co.id (12/3/2021) dengan judul “Kesuksesan PON XX Kebanggaan Rakyat Papua”.

Menurut Moses, PON ke-XX papua yang akan dilaksanakan pada akhir 2021 menjadi kebanggaan bagi warga asli Papua. Menjadi tuan rumah adalah sebuah kehormatan, karena baru kali ini acara sebesar PON diselenggarakan di Papua. Selain itu, saat acara ini dilangsungkan di Bumi Cendrawasih, rasa nasionalisme mereka akan meningkat.

Masyarakat Papua sangat bangga karena mendapatkan kesempatan jadi tuan rumah PON ke-XX. Kesempatan emas ini sangat langka, karena baru kali ini acara berlevel nasional diselenggarakan di Papua, yang notabene sangat jauh dari ibukota. Mereka senang lalu ikut meramaikan timeline Facebook dan Twitter dengan konten berupa logo PON dan foto-foto venue olahraga di Papua.

Nowela Elizabeth, penyanyi asli Papua mengaku senang akan penyelenggaraan PON di Papua. Ia merasa bertanggungjawab secara moral akan suksesnya penghelatan acara olahraga ini. Menurutnya, acara sebesar PON masih kurang gaungnya, oleh karena itu ia berusaha agar mempopulerkannya, agar semua orang tahu bahwa ada ajang olahraga berlevel nasional di Papua.

Nowela bersama Edo Kondologit dan penyanyi asli dari Bumi Cendrawasih yang lain membuat proyek dan menghasilkan single berjudul Papua Bangkit. Dengan harapan, PON ke-XX akan menjadi momen untuk membangkitkan wilayah Papua. Dalam artian, PON bukan sekadar ajang olahraga, tetapi juga kesempatan untuk membuat perekonomian di Bumi Cendrawasih bangkit lagi.

Kebangkitan ekonomi di Papua memang harus dilakukan, agar kondisi finansial warganya tak lagi terpuruk akibat efek pandemi. Saat ada PON, maka ribuan atlet, pelatih, dan suporter akan mengunjungi Jayapura dan kota lain yang jadi lokasi pertandingan. Otomatis mereka akan butuh makanan, dan mencari hidangan khas Papua. Akan banyak konsumen baru dan meningkatkan omzet dari pedagang makanan.

Selain itu, PON ke-XX juga akan meningkatkan komitmen berbangsa dan bernegara, serta rasa nasionalisme bagi warga asli Papua. Selama ini, mereka sudah cinta NKRI dan merasa bahwa wilayahnya adalah bagian dari Indonesia. Namun sayang ada hasutan dari kelompok separatis, sehingga perdamaian dan persatuan di Papua terancam.

Ketika ada PON ke-XX, maka seluruh rakyat bersatu untuk mendukung timnas Papua. Mereka tak menghiraukan bujukan kelompok separatis untuk berpisah. Karena merasa lebih baik menjadi bagian dari Indonesia. Papua dan Papua Barat adalah provinsi di Indonesia yang sah di mata hukum, dan rakyatnya tidak mau jika diajak membelot.

Keberadaan PON ke-XX meningkatkan rasa nasionalisme warga Papua. Karena mereka akan menonton pertandingan sambil bersatu dengan suporter lain dari seluruh provinsi, dan merasakan persatuan dalam arti yang sebenarnya. Inilah Indonesia, bangsa yang terdiri dari banyak suku, tetapi tetap bisa bersatu dan menjunjung tinggi toleransi. Serta mengutamakan perdamaian dan tidak saling mem-bully.

Penunjukan Papua sebagai tuan rumah PON ke-XX adalah suatu anugerah, karena pemerintah pusat mempercayakan provinsi tertimur di Indonesia untuk meng-handlenya. Berarti mereka merasa bahwa orang Papua sanggup jadi panitia dan mampu menyelenggarakan acara berlevel nasional.

Orang asli Papua juga dianggap cerdas dan bisa menyelenggarakan acara akbar. Berarti rumor bahwa warga di Bumi Cendrawasih dianggap sebelah mata, salah besar. Karena masyarakat Papua adalah warga Indonesia juga, dan sangat pantas diberi kesempatan untuk jadi panitia PON. Agar ada asas keadilan di seluruh Indonesia.

PON ke-XX menjadi ajang untuk bersatu walau mendukung tim dari provinsi yang berbeda. Para suporter tetap sportif dan tetap solid, walau pertandingan telah usai. Mereka tak lagi bertikai, tetapi mau bekerja sama dan saling menolong. Masyarakat Papua sangat bangga akan penyelenggaraan ini di Papua, karena dipercaya oleh pemerintah pusat.

Jadi mari kita dukung suksesnya PON ke-XX Papua. Jadikan olahraga sebagai sarana membangun karakter bangsa dan mempererat persaudaraan dari sabang sampai merauke. Dengan diselenggarakannya PON ini, tidak hanya mecari bibit-bibit atlit berbakat saja, akan tetapi bersama-sama membangun bangsa dan Negara melalui olahraga.

“PON XX Papua: Torang Bisa”!! (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *