oleh

Ini Dia Tujuannya Jelang Pilpres dan Pileg 2019, Perkuat Pasukan Dunia Maya.

-Teknologi-58 Dilihat

Indonesiabangsaku, Jakarta Pergerakan dunia maya (cyber) tengah menjadi atensi pihak kepolisian dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan saat ini, Polres Bangkalan telah menyebar Cybertroops atau pasukan dunia maya di media sosial (medsos).

Kapolres Bangkalan, AKBP Boby Paludin Tambunanan, mengungkapkan keputusan itu tak lepas dari maraknya postingan berita hoax, hujatan, SARA, hingga penghinaan.

Seiring semakin memanasnya eskalasi politik tanah air menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019, pasukan cyber yang sebelum di bawah kendali Humas, kini dalam genggaman Reskrim.

“Kami sudah tugaskan beberapa anggota untuk gelar patroli cyber. Di bawah kendali kasatreskrim,” ungkap Boby usai Apel Gelar Pasukan Mantab Brata Semeru 2018 di Alun-Alun Kota, Rabu (19/9/2018).

Ia menegaskan tak akan segan menindak pelaku ataupun sebuah kelompok yang menyebarkan postingan dengan konten hujatan dan cacian berbau SARA.

Ada sanksi pidana yang bisa menjerat pelaku atau kelompok yang menghujat, menyerang, dan menghina orang lain melalui medsos.

“Pasukan Cyber kami akan menyusuri setiap jengkal dunia maya. Jika terbukti dan memenuhi unsur pelanggaran Undang-undang (UU) ITE, kami proses secara hukum,” tegasnya.

Cyber Troops Polres Bangkalan terbentuk di awal 2017 dengan anggota sebanyak 12 orang. Mereka terdiri dari para netizen dan anggota Polri yang ahli di bidang manajemen informatika, teknis software, dan programer.

Tugas mereka berpatroli menyusuri setiap jengkal dunia maya (Cyberspace) untuk mencari dan meng-counter isu-isu yang merugikan dan mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas).

Tak hanya meng-counter isu-isu berkonten negatif semata, pasukan dunia maya Polres Bangkalan juga menelusuri pergerakan pelaku tindak kejahatan (Cybercrime).

Seperti pengungkapan kasus penghinaan terhadap Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang dilakukan seorang warga Bangkalan melalui akun medsos Instagram pada Mei 2017 silam.

Termasuk pengungkapan identitas jenazah driver taksi online, Ali Gufron yang sempat misteri selama tiga hari pada akhir November 2017.

“Sudah ada beberapa pelaku yang kami tangkap hasil dari penelusuran pasukan cyber,” paparnya.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan medsos. Karena pilpres dan pileg merupakan implementasi dari sebuah panggung demokrasi.

“Marilah berdekorasi dengan baik dan santun Pilihan boleh beda namun tak boleh saling caci maki. Jagalah persatuan sesama anak bangsa,” imbaunya.

Boby menambahkan, dalam Undang-undang Pemilu tidak dibenarkan mengarahkan atau menggiring opini dengan tujuan mempengaruhi pilihan sebelum jadwal kampanye.

“Kalau tergolong melanggar UU Pemilu, itu ranah Gakumdu. Jika di luar, urusan reskrim,” pungkasnya.

Dalam penindakannya, lanjut Boby, pihak penyidik kepolisian akan berkoordinasi dengan pihak Penegakan Hukum Terpadu (Gakumdu).

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.