oleh

Jangan Ada Diskriminasi Hukum, Pelaku Rasis Harus Ditindak Terhadap Orang Asli Papua (OAP)

Indonesiabangsaku, Jakarta – Tokoh agama yang juga Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama provinsi Papua Pendeta Livius Biniluk mengatakan, di dalam kehidupan ini semua kita manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling mulia.

Sehingga seharusnya tidak boleh saling menghina satu sama lain.

“Pertama sebagai warga umat beragama tidak boleh ada rasisme. Tuhan menciptakan manusia ya manusia, binatang ya binatang. Itu berbeda. Dan semua harus tahu itu siapapun dia,” ujar Pendeta Livius.

Menurutnya, tindakan rasisme yang dialami warga Papua sudah lama dan beberapa waktu lalu menjadi puncaknya.

“Tidak ada alasan mereka bicara begitu karena kebetulan. Sebenarnya rasisme itu sudah lama, itu kemarin hanya muncul begitu saja, saya tahu itu. Itu salah dan mestinya tidak boleh ada rasisme. Harus sadar menghargai ciptaan Tuhan. Jadi tidak boleh lagi,” ujar Biniluk.

BACA JUGA : Tidak Ada Diskriminasi dan Rasisme Terhadap Orang Asli Papua (OAP)

Lanjut Tokoh Gereja GIDI itu, pemerintah tidak boleh diskriminatif terhadap pelaku rasisme.

Karena itu hanya akan menciptakan persoalan-persoalan baru lagi.

“Tangkap itu orang yang keluarkan kata rasisme, mau anggota kah tangkap, proses masuk penjara itu saja selesai, tidak akan ada lagi masalah,” tegasnya.

Ia juga menghimbau kepada seluruh masyarakat Papua tetap tenang tidak mudah terprovokasi. Karena semua aspirasi sudah disampaikan kepada Pemprov, DPRP, MRP.

“Mereka sedang ada di Jakarta saat ini dan sedang menuju Surabaya dan lain lainnya. Biarkan mereka selesaikan, dan masyarakat di Papua tetap berkebun berjualan, beribadah semua itu,”kata Biniluk.

Kepada warga non Papua, Biniluk juga menghimbau untuk tetap tenang dan tetap beraktivitas seperti biasa, karena Papua pada unumnya aman.

BACA JUGA : Hukum berat pelaku kasus rasismehttps://indonesiabangsaku.com/hukum-berat-pelaku-kasus-rasisme/

“Terus yang mau demo ya demo yang terhormat bermartabat. Jangan ada anarkis merusak rumah merusak manusia lain, itu tidak boleh dan firman Tuhan katakan demikian juga deklarasi PBB begitu. Boleh sampaikan kemauan apapun tapi harus bermartabat itu saja tidak ada lain,” tandas Biniluk.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *