oleh

Kekuatan Budaya Dapat Mengeleminir Radikalisme

Radikalisme agama marak terjadi di kota-kota, terutama kota besar. Ini terjadi karena tradisi di kota-kota terutama kota besar mulai luntur. Berbeda dengan masyarakat desa yang masih memegang teguh tradisi. Padahal tradisi adalah jati diri sebuah masyarakat.

Radikalisme harus dilawan. Radikalisme tidak hanya berbahaya bagi setiap warga negara, namun juga menimbulkan citra buruk negara dimata negara lain. Ada banyak jalan untuk melawan radikalisme. Salah satunya lewat jalur tradisi. Tradisi cukup penting untuk dijadikan jalan untuk melawan radikalisme.

Proses Islamisasi di Indonesia pun tak sama dengan Arab. Di Arab sana Islam disebarkan lewat pedang. Ekspansi Islam waktu itu merupakan suatu yang wajar dalam masa keemasan Islam. Berbeda dengan di Indonesia yang disebarkan lewat jalan yang penuh kedamaian. Lewat akulturasi budaya dan agama.

Dulu para pendahulu Islam di nusantara menggunakan tradisi sebagai cara untuk menyebarkan Islam. Mereka ini disebut walisongo. Walisongo tidak langsung merombak total apa yang disebut dengan budaya setempat, sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran Islam dan bisa diakulturasikan dengan ajaran Islam.

Tradisi atau budaya mempunyai andil yang cukup besar dalam perkembangan Islam di Indonesia. Begitupun kini tradisi juga masih cukup penting perannya dalam kehidupan masyarakat. Meski era modern telah banyak melumat atau mengikis tradisi-tradisi lokal. Setidaknya tradisi masih menjadi akar yang kokoh bagi segala bentuk ancaman-ancaman yang akan merusak keutuhan negara.

Tak heran bila tradisi mampu menangkis dan menolak segala bentuk paham ekstrimis dan radikalisme. Ini telah terbukti, kalau kita mau membaca dan memandang dengan jeli, jarang atau bahkan tidak ada kasus-kasus radikalisme terjadi di desa.

Mengapa tradisi mampu menangkal radikalisme? Pertama para agen radikalisme sangat membenci atau anti terhadap tradisi. Tradisi menurut mereka haram, karena mengandung unsur kesyirikan dan tentu saja bid’ah. Semua bid’ah itu sesat dan yang sesat akan masuk neraka.

Yang kedua, tradisi merupakan gaya hidup masyarakat lokal yang secara turun temurun dijalani. Tradisi termasuk jati diri masyarakat lokal. Secara mati-matian pun akan tetap dipertahankan asal tradisi tetap hidup dan berjalan. Oleh karenanya penyebaran Islam zaman dulu, oleh para pendakwah seperti walisongo tidak menggunakan jalan kekerasan, dan membabat habis tradisi.

Maka tidak heran dengan jargon “Islam Nusantaranya” NU atau Nahdlatul Ulama  tidak tergesa-gesa memberantas habis atau mengusik segala bentuk tradisi masyarakat lokal. Asal tidak bertentangan dengan islam, kita diberi keleluasaan untuk mengamalkan tradisi yang ada. Prinsipnya almuhafadhotu ‘ala qodimissholih wal akhdzu bil jadidil ashlah, yang berarti memelihara yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik.

Fandi Mahasiswa jurusan Tasawuf, UIN Jakarta

Osmar Tanjung, Sekjen Pusat Kajian Pengembangan Berdikari mengatakan, menurut pakar radikalisme, ada hubungan erat antara perkembangan ranah seni-budaya dan pengurangan radikalisme, khususnya dalam upaya melawan kekosongan identitas (identity vacuum) serta rasa keasingan sosial (social alienation). Ini sering terjadi akibat semakin pesatnya tingkat urbanisasi, globalisasi dan migrasi.

Ia juga mengatakan bila keterlibatan seni budaya dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat memberikan kontribusi besar terhadap penciptaan modal sosial (sosial capital), baik secara individu maupun kolektif dengan memperkuat jaringan-jaringan sosial.

Persoalannya, di dalam dunia kaum muda tradisi kurang memeroleh tempat. Para pemuda kita lebih senang memainkan gadget dan mengikuti budaya global (Barat) daripada ikut melestarikan tradisi-tradisi lokal di daerah masing-masing. Walaupun tidak semuanya. Hal ini tentu dapat memicu masuknya tradisi-tradisi lokal kedaerahan menuju jurang kepunahan. Para pemuda kita lebih suka dan bangga apabila memakai  merek atau budaya barat, atau yang lagi ngetren yakni budaya korea.

Hal ini harus menjadi perhatian kita bersama. Para pemuda perlu dilibatkan dalam perayaan tradisi-tradisi lokal. Ini semata agar pemuda, berperan aktif sebagai pelaku tradisi, hingga tradisi mengakar pada diri para pemuda. Agar nilai-nilai tradisi melekat dalam jiwa para pemuda, bagaimana peran pemerintah dalam menguatkan nilai-nilai tradisi tersebut.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.