oleh

KKB Murka: Benny, Kalian Enak Tinggal di Luar Sana, Apa Kamu Tahu Susahnya Kami Di Papua?

-Berita, Papua-16 Dilihat

Indonesiabangsaku.com – Panglima perang kelompok kriminal bersenjata di Ndugama, Egianus Kogoya marah besar ketika berkomunikasi dengan Presiden Sementara Papua Barat, Benny Wenda.

Melalui video yang kini beredar di dunia maya, Egianus Kogoya tampak murka.

Dengan suara lantang dan tangan diacung-acungkan, Egianus Kogoya melontarkan pernyataan pedas yang ditujukan kepada orang-orangnya yang hidup luar negeri.

Orang-orang yang dimaksud Egianus Kogoya adalah mereka yang selama ini mengaku sebagai diplomat dan berjuang untuk Papua merdeka.

Bahkan dalam video tersebut, Egianus Kogoya secara blak-blakan menyebut nama satu per satu yang memang selama ini berada di luar negeri.

Nama-nama yang disebutkan itu, antara lain Benny Wenda, Sebby Sambom. Viktor Yemu dan Jefri Pagawa.

Keempat sosok ini dituding sebagai pihak yang hanya menumpang hidup dari keganasan KKB yang berperang di Papua.

“Kami berjuang setengah mati di hutan untuk Papua merdeka, tapi kalian yang hidup di luar negeri, mengaku sebagai diplomat, tapi hanya untuk kepentingan mencari keuntungan dari kami,” tandas Egianus Kogoya.

Egianus Kogoya memang marah besar. Dengan nada bicaranya yang melengking tinggi, ia menuding para figur tersebut tak optimal berjuang untuk Papua merdeka.

Akan tetapi tak diketahui persis faktor apa yang memicu, sehingga emosi panglima perang di Ndugama itu sama sekali tak terkendali.

Dia mengatakan: “Saudara Benny Wenda, tahukah kalian bagaimana perjuangan di Tanah Papua?”

“Saudara Sebby Sambom, apakah kalian rasakan bagaimana susahnya para pejuang kemerdekaan di Papua?”

“Kalian enak tinggal di luar sana, tapi kami di sini, siang malam berperang untuk Papua merdeka.”

“Pernahkah kalian merencanakan bagaimana merekrut anak-anak untuk jadi anggota supaya berperang?” kata Kogoya.

“Pernahkah kalian pikirkan bagaimana anak-anak Papua bisa sekolah, supaya nantinya mereka bisa membangun Papua?”

Dalam video yang viral tersebut, putra Silas Kogoya juga menandaskan, bahwa selama ini mereka terus berperang tanpa henti.

Peperangan yang dilakukan hanya untuk satu tujuan, yakni merebut kemerdekaan Papua dari tangan bangsa kolonial.

Yang dimaksud Egianus Kogoya dengan bangsa kolonial, adalah Indonesia.

Sebab, bagi Egianus Kogoya dan TPNPB-OPM serta di mata semua anak buahnya, Indonesia merupakan bangsa penjajah.

Sementara TNI Polri merupakan teroris yang menyusahkan rakyat Papua.

Rupanya pernyataan yang dialamatkan kepada empat orang Papua di luar negeri tersebut, mendapat respon langsung dari Sebby Sambom.

Sebagai Juru Bicara OPM, Sebby Sambom angkat bicara menyahuti pernyataan Egianus Kogoya yang bernada tudingan tersebut.

Ebby Sambom membalas pernyataan Egianus Kogoya dengan mengatakan, bahwa apa yang dikatakan itu, adalah tidak benar.

“Kami semua sebenarnya terus berjuang untuk Papua merdeka,” kata Sebby Sambom.

Sebagai pejuang KKB di luar negeri, kata Sebby Sambom, ia tak pernah berhenti sesaat pun untuk membangun jaringan internasional.

Saat ini, kata Sebby Sambom, TPNPB-OPM sesungguhnya semakin lemah. TPNPB-OPM tak bisa lagi berjuang untuk Papua merdeka.

Pasalnya, lanjut Sebby Sambom, TPNPB-OPM telah dikepung dari berbagai penjuru oleh TNI Polri, terorisnya Indonesia.

“Kau, Egianus Kogoya, adalah anak kecil yang baru tumbuh dan kaget melihat Papua yang kini mulai merdeka,” kata Sebby Sambom.

“Egianus itu tidak bersekolah sehingga tak mengerti apa itu diplomatik,” tandas Sebby Sambom.

Karena itu, katanya, lebih baik Egianus Kogoya diam dan berhenti dari tindakanmu yang menyusahkan masyarakat dengan merampok.

“Kau lebih baik diam, atau kami bongkar semua tempat persembunyianmu,” ancam Sebby Sambom dengan nada marah.

Sementara Benny Wenda yang telah memproklamirkan diri sebagai Presiden Sementara Papua, hingga kini tidak merespon pernyataan Egianus Kogoya itu.

Benny Wenda juga sepertinya tak mampu dijamah oleh personel KKB lainnya, baik di Papua maupun di luar Papua.

Dari fakta-fakta ini, sepertinya ada kesenjangan antara KKB yang berperang di Papua dengan para diplomatnya yang ada di luar negeri.

Pasalnya, para diplomat itu dituding Egianus Kogoya sebagai pihak yang hanya menumpang hidup dari peperangan yang dilancarkan TPNPB-OPM di Papua.

Bahkan dari peperangan itulah, para diplomat tersebut bisa mendapatkan sesuatu agar dapat menyambung hidup.

Dan, terlepas dari benar tidaknya tudingan tersebut, tapi kenyataan memperlihatkan bahwa KKB tetap eksis dengan berbagai tindak kejahatan.

Kabar terbaru menyebutkan bahwa dalam beberapa pekan terakhir, KKB melancarkan serangan yang membahayakan penerbangan.

Tindakan yang dilakukan, adalah menembak pesawat Asian One PK-LTF yang hendak mendarat di Bandara Aminggaru Ilaga pukul 09.30 WIT.

Akibat tindakan tersebut, empat armada penerbangan berhenti melayani rute ke wilayah tersebut.

Aksi berikutnya, adalah membakar perumahan guru SMA Negeri 1 di Kampung Wako, masih dalam Distrik Ilaga, Kabupaten Puncak.

Peristiwa pembakaran rumah guru itu dilakukan pada Jumat 13 Mei 2022 malam.

Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Ahmad Musthofa Kamal membenarkan adanya peristiwa tersebut.

Dia menuturkan, peristiwa itu pembakaran rumah guru itu, terjadi pada pukul 19.00 WIT.

“Pos 408 menerima informasi via HT bahwa telah terjadi pembakaran rumah guru SMA 1 Ilaga,” kata Kamal, Jumat malam.

Atas informasi tersebut, Ipda Kristofol R Lewirissa selaku Kanit Tindak Pidana, Satgas Operasi Damai Cartenz, langsung bergerak cepat menuju lokasi kejadian.

Akan tetapi, saat tiba di tempat kejadian perkara, aparat keamanan tak menemukan lagi para pecundang berada di tempat tersebut.

Bersama warga di sekitar lokasi kejadian, aparat pun berusaha memadamkan api hingga sekitar pukul 19.20 WIT.

Atas peristiwa tersebut, Kombes Pol Faisal Ramadhani, Wakil Kepala Satgas Operasi Damai Cartenz, mengungkapkan, bahwa teror yang terjadi dalam dua pekan terakhir dilakukan oleh anak buah Luki Murib.

“Pelaku balas dendam. Luki Murib tewas saat kontak tembak di Kampung Eromaga 23 April 2022 lalu,” kata Faisal.

Luki Murib Tewas Dihantam Sniper

Untuk diketahui, Sabtu 23 April 2022, sniper TNI Polri menembak mati Luki Murib, perwira tinggi OPM yang berpangkat brigjen.

Luki Murib tewas diberondong sniper di Distrik Omukia, Kabupaten Puncak. Turut ditembak pula Badaki Kogoya, teman Luki Murib.

Luki Murip merupakan sniper KKB yang menembak mati Kabinda Papua Brigjen TNI I Gusti Putu Danny Karya Nugraha pada 25 April 2021 silam.

Luki Murib merupakan Panglima Lapangan Kodap III Kampung Ondugura, Nduga.

“Iteminus Luki Murid seorang sniper West Papua,” tulis akun@papuanijosani dikutip Senin 25 April 2022.

Dalam kejadian itu, Luki Murib ditembak saat kontak senjata antara pasukan TNI Polri vs KKB Papua di area Jembatan Ilame, Kampung Erogama, Distrik Omukia.

“Benar, ada kontak senjata yang terjadi Sabtu sekiranya pukul 04.58 WIT

Saat itu, Luki Murib bersama anggota hendak menembak personel TNI Polri.

“Luki Murib dan Badaki sempat menyerang. Dari situlah terjadi kontak. Saat ini anggota KKB ini telah dimakamkan,” pungkasnya.

Luki Murib pernah membakar mes karyawan PT MTT (Martha Tunggal Teknik) di Distrik Gome, Kabupaten Puncak, Jumat 22 April 2022.

Luki Murib diyakini sebagai penembak Kabinda Papua Brigjen TNI I Gusti Putu Danny Karya Nugraha.

Penembakan yang menyebabkan gugurnya Kabinda Papua itu terjadi di Beoga, Kabupaten Puncak pada 25 April 2021.

“Luki Murib diduga kuat sebagai oknum yang menembak Kabinda Papua,” kata Direskrimum Polda Papua Kombes Faizal Ramadhani, Senin 25 April 2022 malam.

Dugaan itu didasarkan informasi yang dimiliki aparat keamanan mengenai senjata yang dimiliki Luki Murib.

“Dia memegang senjata dengan teleskop dan dia punya kemampuan menembak jarak jauh,” ungkapnya.

Informasi yang dihimpun Tribun-Papua.com, Senin 25 April 2022, kontak tembak pecah sekira pukul 04.58 WIT, saat anggota Satgas Penegakan Hukum Damai Cartenz sedang melakukan penyelidikan terhadap pelaku pembakaran rumah warga oleh KKB, beberapa waktu lalu.

Insiden bakutembak pecah setelah KKB tiba-tiba menyerang anggota kepolisian.

Aparat keamanan merespon dengan tembakan balasan hingga dua anggota KKB tersebut roboh diterjang peluru.

KKB Papua Balas Dendam

Setelah tewasnya Luki Murib dan Badaki Kogoya, KKB Papua melakukan aksi balas dendam yang tak terkontrol.

Aksi balas dendam KKB Papua itu menewaskan seorang tukang ojek di Kampung Kibologome, Distrik Ilaga, Kabupaten Puncak pada Senin 25 April 2022 siang.

Tukang ojek bernama Samsul Sattu itu ditembak saat sedang minum kopi di depan rumah.

“Pak Samsul saat kejadian sedang minum kopi dengan empat rekannya,” kata Ketua Ikatan Keluarga Toraja Kabupaten Puncak, Mulyanto kepada Tribun-Papua.com, Selasa 26 April 2022 di rumah duka.

Ia mengatakan, saat duduk tiba-tiba ada dua orang tak dikenal lewat di depan rumah langsung melepas tembakan ke arah dada korban.

“Korban tersungkur dan meninggal dunia di depan rumah sebelum dilarikan ke Puskesmas Ilaga,” ujarnya.

Direskrimum Polda Papua Kombes Pol Faizal Ramadhani mengatakan penembakan terhadap tukang ojek SS terjadi sekitar pukul 17.00 WIT.

“Sekarang korban ada di Puskesmas Ilaga,” ujar Kombes Pol Faizal Ramadhani, di Timika, Selasa 25 April 2022.

Mengenai pelaku penembakan, Faizal menduga pelaku merupakan kelompok Numbuk Telenggen.

Sedangkan motif penembakannya, diduga kuat adalah serangan balasan dari tewasnya dua tokoh KKB pada Sabtu 23 April 2022 lalu.

“Kalau lihat posisi kejadian, dekat dengan bandara yang merupakan lokasi kontak senjata dan dua tokoh KKB tewas. Ini bisa menjadi catatan bahwa mereka berusaha membalas,” tutur Faizal.

Komisi nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyebut penembakan yang menewaskan warga sipil oleh KKB merupakan aksi balasan, apabila mendapat tekanan dari aparat keamanan.

Demikian juga bila ada anggota kelompok tersebut tewas dalam operasi penegakan hukum.

Hal ini diungkapkan Kepala Kantor Komnas HAM Perwakilan Papua dan Papua Barat, Frits Ramandey, saat berkunjung ke Timika.

“Mereka (KKB) akan cari sasaran kalau bukan anggota maka warga sipil dan sedikit menyasar non-Papua,” ujar Frits Ramandey kepada Tribun-Papua.com, di Bandara Mozes Kilangin Timika, Selasa 26 April 2022.

Menurut Frits, aksi balasan KKB, menyusul tewasnya dua anggota kelompok tersebut di tangan Satgas Penegakan Hukum Damai Cartenz.

Komnas HAM juga turut prihatin atas tewasnya Samsul Sattu (45), warga sipil yang ditembak KKB di Distrik Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua, pada Senin 25 April 2022.

Samsul Sattu merupakan warga Toraja yang bekerja sebagai tukang ojek di Distrik Ilaga, ibu kota Kabupaten Puncak.

Ia ditembak sekira pukul 16.30 WIT, saat menikmati kopi di teras rumahnya.

“Kelompok ini memang punya problem, di mana kalau anggota mereka dibunuh, baru tidak dibalas, maka akan terkena sanksi.”

“Jadi kemungkinan pola ini digunakan KKB. Ini adalah pola dan hubungan adat,” ucapnya.

Meski begitu, teror dan kekerasan KKB yang terus-menerus tak akan mendapat simpati dari publik.

“Kami Komnas HAM menekankan, kalau mau Papua damai harus ada keterlibatan semua pihak, termasuk aparat. Mestinya secara organisasi, pelaku harus ditegur pimpinannya,” kata Frits.

Dia menambahkan, tujuan Organisasi Papua Merdeka (OPM) tak akan tercapai apabila tak bisa mengendalikan sayap militernya.

“Kami sudah bertemu dengan pimpinan KKB di Ilaga dan bicara sama mereka, jangan ada kekerasan. Jadi sekali lagi, Komnas HAM prihatin atas insiden mengakibatkan warga sipil tak berdaya menjadi sasaran,” pungkasnya. (frans krowin/*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.