oleh

Markasnya di Obrak-abrik TNI-Polri, Panglima KKB Papua Lari Terbirit-birit

-Berita, Papua-175 Dilihat

IndonesiaBangsaku.com – Markas Kelompok Kriminal Bersenjata atau KKB Papua diobrak-abrik pasukan TNI-Polri dan panglima mereka lari terbirit-birit. Kabar viral itu kini menyebar di media sosial (medsos).

Di sisi lain, pentolan KKB Papua gencar mencuci otak para anggotanya agar terus melawan TNI-Polri.

Satu per satu sosok andalannya tewas di tangan aparat bersenjata, TNI Polri.

Bila sebelumnya tersiar kabar bahwa Ali Teu Kogoya, orang kepercayaan Panglima Egianus Kogoya, tewas diterjang peluru.

Kali ini, kabar tentang kematian orang berpengaruh di KKB, justeru datang dari Panglima Lekagak Telenggen.

Anak buah Lekagak Telenggen menemui ajal ketika tempat persembunyiannya di Wulomi, diobrak abrik oleh aparat TNI Polri.

Sosok bernama Lesmin Walker yang juga Komandan Operasi KKB Ilaga itu, tewas saat disergap aparat berseragam loreng.

Kisah penyergapan tempat paling rahasia KKB di Kabupaten Intan Jaya tersebut, kini viral di media sosial.

Viralnya kisah itu, karena momen penyergapan kelompok bersenjata tersebut, dilakukan tanpa disadari oleh para pengacau keamanan di daerah tersebut.

Bahkan saat disergap pun Lesmin Walker tak tahu sama sekali kalau gerak geriknya selama ini ternyata telah dipantau oleh TNI Polri.

Lesmin Walker merupakan salah satu orang berpengaruh di KKB. Ia juga paling diincar TNI Polri karena terlibat dalam sejumlah tindakan kriminal di Papua.

Salah satu tindakan kejam Lesmin Walker, adalah menembak mati aparat Brimob bernama Prada I Komang Wiranata pada akhir April 2022.

Saat itu, Lesmin Walker memimpin langsung penyerangan KKB ke pos keamanan di Puncak Jaya.

Dalam penyerangan tersebut, Prada I Komang Wiranata gugur di medan laga. Ia ditembak mati oleh Lesmin Walker.

Sejak peristiwa kelam tersebut, TNI Polri pun meningkatkan tindakan pengamanan di wilayah itu.

Siang malam mereka mencari dan mengejar Lesmin Walker, hingga akhirnya menemukan pria yang paling dicari tersebut.

Dan, kisah pencarian pun menjadi trending topik, sebab seluruh wilayah Intan Jaya diobok-obok oleh aparat keamanan.

Selain di kota dan di kampung-kampung, aparat TNI Polri pun menyisir seluruh sisi hutan belantara di daerah tersebut.

Ibarat sepandai-pandainya tupai melompat tapi akhirnya jatuh juga ke tanah, itu yang terjadi dalam kasus ini.

Sepandai-pandainya Lesmin Walker bersembunyi, menyusun rencana dan menyerang TNI Polri, ia pun jatuh oleh perbuatannya sendiri.

Bahkan saat dirinya tak siap menghadapi penghakiman terakhir oleh TNI Polri, pada saat itulah maut datang menjemput.

Ironisnya, Lesmin Walker bukan dijemput maut saat sedang berperang, tapi ketika ia sedang berkumpul bersama kelompoknya.

Lesmin Walker Cs dihabisi saat sedang berada di Wulomi, tempat persembunyiannya di tengah hutan di Distrik Ilaga.

Kabar mengejutkan lagi, adalah tatkala Lesmin Walker disergap, pada saat itu Panglima Lekagak Telenggen lari terbirit-birit.

Bahkan Lekagak Telenggen yang terkenal bengis itu kini harus berpindah pindah dari satu tempat ke tempat lain.

Sebab hanya dengan cara itu, ia bisa lolos dari kejaran aparat TNI Polri yang semakin ngotot di tanah Papua.

Dan, sejak Lesmin Walker dikirim ke alam baka, sejak itu pula markas komandan operasi KKB di Intan Jaya dikuasai TNI Polri.

Dari markas Lesmin Walker itu, TNI Polri mengamankan sejumlah dokumen penting yang terkait dengan Papua merdeka.

Turut diamankan pula beberapa helm militer, senjata tajam dan sejumlah handphone (Hp).

Bahkan dari dokumen yang diamankan itu, terungkap pula sejumlah rencana KKB dalam mewujudkan perjuangannya.

Meski tak disebutkan secara transparan dalam video yang viral tersebut, tetapi rencana KKB itu terungkap jelas dalam dokumen yang diamankan TNI Polri.

Bahkan sejumlah hal yang paling rahasia pun kemungkinan telah diketahui oleh TNI Polri.

Terbetik pula kabar bahwa TNI Polri bukan hanya menduduki markas KKB Wulomi tetapi juga Markas KKB di Tagalowa.

Kedua markas KKB tersebut, masih dalam distrik yang sama, yakni Distrik Ilaga, Kabupaten Puncak Jaya.

Kahumas Satgas Nemangkawi, Kombes Muhammad Iqbal Alqudusi membenarkan kabar tentang tertembaknya komandan operasi KKB, Lesmin Walker.

Iqbal bahkan menyebutkan bahwa Lesmin Walker terlihat dalam sejumlah kasus kriminal di Papua.

Salah satunya adalah penembakan brimob atas nama Prada I Komang Wiranata dalam serangan KKB pada akhir April 2022 lalu.

Dalam insiden tersebut, Prada I Komang Wiranata gugur dalam pertempuran sengit itu.

Disebutkan pula bahwa saat ini TNI Polri yang tergabung dalam Satgas Operasi Nemangkawi terus menyisir semua lokasi di Papua.

Operasi yang diberi nama Operasi Damai Cartenz itu Selain bertujuan menegakkan wilayah kedaulatan NKRI, tetapi juga menciptakan stabilitas keamanan nasional di Papua.

Hingga saat ini belum diketahui keberadaan Panglima KKB, Lekagak Telenggen.

Meski demikian, sosok yang terkenal kejam itu terus dicari karena bertanggung jawab atas sejumlah insiden berdarah di Papua.

Pasukan Ular Beludak

Para dedengkot KKB Papua terus mencuci otak anggotanya untuk melawan TNI Polri.

Kepada anak buahnya yang tergabung dalam pasukan Ular Beludak, pentolan-pentolan KKB Papua tersebut memberikan perintah untuk menembak siapa saja yang ada di lokasi sasaran, tak peduli warga sipil ataupun pasukan TNI Polri.

Video pentolan KKB memerintahkan agar anggota pasukan Ular Beludak menembaki seluruh orang yang ada di target sasaran ini banyak beredar di media sosial.

Dalam rekaman video yang beredar di medsos, pentolan KKB Papua yang belum diketahui identitasnya tersebut memberikan satu perintah saja.

Perintah tersebut, yakni menembak siapa saja yang ditemukan pada target yang disasar.

“Tembak, tembak! Ini yang harus kalian lakukan untuk merebut kemerdekaan dari kolonial Indonesia.”

Tak diketahui pula sedang berada di wilayah mana sang komandan tersebut memberikan perintah yang mengerikan itu.

Namun dari deretan kalimat yang dilontarkannya, komandan tersebut tampak berapi-api memberikan arahan.

Mengenakan celana pendek dengan jaket loreng membalut tubuh, pria berjenggot itu berbicara dengan tangan yang terus diacungkan.

Ia tak henti-hentinya mengobarkan peperangan tanpa mempedulikan keselamatan anggotanya.

Selain memberikan perintah tembak di tempat, pasukan ular beludak juga dimandatkan untuk melakukan apa saja demi meraih kemerdekaan.

“Jangan takut pada TNI-Polri yang memiliki fasilitas peperangan lebih dari yang dimiliki KKB. Meski senjatanya lebih canggih dari KKB, tapi penggunaannya tidak pada tempatnya,” katanya.

Senjata TNI Polri itu, kata komandan operasi tersebut, tidak pantas digunakan di tanah Papua.

Sebab bangsa Papua juga punya senjata. Senjata KKB untuk merebut kemerdekaan sedangkan senjata TNI Polri untuk menjajah.

Karena itu, kata sang komandan, daripada Papua dijajah, daripada Papua dikuasai, lebih baik Papua merdeka.

Pernyataan merdeka ini diucapkan secara berulang kali dan disambut dengan gegap gempita oleh pasukan.

Bahkan di akhir pernyataan perangnya, sang komandan itu memerintahkan anak buahnya untuk segera menembak.

Terlihat dari video yang viral itu, salah seorang anak buah yang juga sebagai prajurit pasukan ular beludak, langsung mengokang senjata dan melepaskan sekali tembakan.

Detik-detik tembakan ke udara itu disambut dengan pekikan histeris anggota KKB lainnya.

Video yang kini viral itu merupakan satu dari sekian banyak kampanye provokatif lainnya.

Mengapa TNI Tidak Melakukan Serangan Udara

Sebelum lahir dengan sebutan KKB Papua, kelompok ini dulunya dikenal dengan nama Organisasi Papua Merdeka (OPM).

OPM didirikan pada 1965 untuk mengakhiri pemerintahan Provinsi Papua dan Papua Barat, yang sebelumnya disebut Irian Jaya.

Menurut catatan, KKB kerap beraksi di wilayah pegunungan di Papua. Beberapa kabupaten yang sampai saat ini dianggap rawan dari aksi mereka seperti Puncak, Yahukimo, Nduga dan Intan Jaya.

Sementara itu, ada lima kelompok yang sudah dipetakan dengan para pemimpinnya, yakni Lekagak Telenggen, Egianus Kogoya, Jhony Botak, Demianus Magai Yogi dan Sabinus Waker.

Dari lima kelompok itu, Lekagak Telenggen dan Egianus Kogoya dianggap sebagai yang paling berbahaya.

Sampai saat ini, KKB Papua sulit diberantas karena mereka berbekal persenjataan lengkap dan mutakhir.

Beberapa aksi kejahatan yang pernah dilakukan KKB Papua adalah melakukan penyerangan terhadap pekerja, pembacokan, penembakan, serta pembakaran rumah dan sekolah di beberapa wilayah di Papua.

Dengan korban yang terus berguguran, banyak orang bertanya-tanya, mengapa TNI tidak melakukan serangan udara terhadap KKB?

Pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi mengatakan, akan timbul risiko lebih besar ketika TNI memilih serangan udara.

Sebab, serangan udara dilakukan setelah target benar-benar dipastikan secara presisi.

“Tentu saja akan sulit membedakan antara target KKB dan warga. Apalagi medan di Papua bisa dibilang sulit,” kata Fahmi, Senin (9/5/2022).

Menurutnya, strategi KKB selama ini adalah berbaur dengan warga untuk menyulitkan aparat. Karena itu TNI sangat berhati-hati dalam mengambil satu tindakan, tak terkecuali serangan udara.

“Dikhawatirkan serangan itu akan membuat konflik meluas. Akan sulit memelihara simpati dan dukungan masyarakat ketika terjadi insiden-insiden terhadap warga,” jelas dia.

“Itu yang memang menjadi penyulit dalam konteks pendekatan militer di Papua,” kata Fahmi.

Ia menjelaskan, pendekatan dialog dan humanis yang diterapkan oleh Panglima TNI Andika Perkasa saat ini lebih mungkin dilakukan daripada militer.

Sebab, pendekatan militer terbukti tidak mampu menghentikan aktivitas KKB di Papua. Hanya saja, pendekatan ini semestinya juga dilakukan oleh sejumlah pihak lainnya selain TNI dan Polri.

“Mestinya leading sector-nya bukan TNI atau Polri, mereka hanya melakukan dukungan keamanan dalam upaya damai,” ujarnya.

“Karena tugas TNI atau Polri itu kan memukul, bukan merangkul, kalau merangkul yang ditugaskan seharusnya unsur pemerintah lain. Papua ini bukan hanya urusan TNI atau Polri,” kata dia.

Artinya, perubahan pendekatan itu juga harus disertai dengan pergantian leading sector.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.