oleh

Paham Radikal Lebih Mudah Larut Menodai Generasi Z

Oleh Muhammad Khalil

Menurut KBBI, radikalisme /ra·di·kal·is·me/ ialah paham atau aliran atau sikap yang radikal atau ekstrem dalam sosial dan politik yang menginginkan perubahan atau pembaharuan dengan cara kekerasan atau drastis. Radikalisme masa kini menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat Indonesia, dan telah mendapat perhatian besar dari Presiden Joko Widodo hingga muncul pernyataaan “manipulasi agama” menggantikan kata “radikalisme” itu sendiri. Disisi lain, kekhawatiran sebaran faham radikal juga dikemukakan Syaifullah Tamliha, S.PI., M.S, Anggota Komisi 1 DPR RI yang menilai hal ini salah satu isu kebangsaan yang aktual dan mendapat sorotan dari berbagai pihak dengan hadirnya narasi radikalisme disertai aksi terorisme.

Paham radikalisme menyebar dan tumbuh subur di tengah masyarakat melalui oknum-oknum masyarakat yang berbicara atasnamakan tuhan, mengklaim sebagai ulama, tetapi mencoreng nama baik agama. Seorang cendekiawan muslim dalam ilmu-ilmu Al Qur’an, Prof. Dr. AG. KH. Muhammad Quraish Shihab, Lc., M.A. mengatakan bahwa penyebab utama dapat diterimanya faham radikalisme ialah akibat “kebodohan” akan ilmu agama. Lantas, jika di telaah lebih lanjut, siapkah target dari para penebar benih radikalisme ini?

Dikutip dari mediacyberbhayangkara.com, Mantan narapidana teroris (NAPITER), Haris Amir Falah, mengatakan bahwa pada saat ini kalangan milenial yang sedang mencari jati diri dan membutuhkan aktualisasi diri, menjadikan kalangan ini rentan untuk terpapar ajaran radikalisme, dan tentunya keadaan ini dimanfaatkan oleh kelompok radikal untuk memaparkan ideologisnya. Menarik diamati pernyataan dari Juru bicara Badan Intelijen Negara (BIN), Wawan Purwanto, mengatakan anak-anak muda berumur 17-24 tahun itu menjadi target utama penyebaran paham ekstremis dan terorisme karena mereka masih muda, energik, mencari jati diri, dan masih memiliki semangat yang tinggi (voaindonesia.com). Kemudian, Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigjen Pol R Ahmad Nurwakhid, menyebutkan ada sebanyak 12,2 persen masyarakat Indonesia berpotensi terpapar paham radikalisme, dimana 85% nya merupakan generasi millennial dan generasi Z, dengan indikator sudah anti-Pancasila, intoleran, anti pemerintahan yang sah dan anti budaya lokal (idntimes.com). Fakta-fakta ini menjadi sangat ironis, karena mereka adalah generasi penerus bangsa yang akan melanjutkan perjuangan bangsa, mempertahankan Ideologi Pancasila dan mengamalkan Bhineka Tunggal Ika.

Seperti menggambar diatas kertas kosong, begitulah mudahnya warna gelap paham radikal ditorehkan dalam polosnya pikiran seorang anak. Ketidaktahuan dan ketidakpahaman anak, generasi millennial dan generasi Z terhadap didikan agama, bisa menjadi instrospeksi bagi lingkungan sekitarnya. Lantas ini menjadi tanggung jawab siapa? Mungkin bisa dikatakan bahwa yang paling terdekat ialah tenaga pendidik anak, yaitu Guru.

Ki Hajar Dewantara pernah berkata  Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani, yang artinya di Depan, seorang Pendidik harus memberi Teladan atau Contoh Tindakan Yang Baik, Di tengah atau di antara Murid, Guru harus menciptakan prakarsa dan ide, Dari belakang Seorang Guru harus Memberikan dorongan dan Arahan. Guru adalah contoh bagi generasi penerus, pahlawan tanpa tanda jasa sebutannya. Akan tetapi, faktanya, pada tahun 2021 polisi menangkap seorang guru kepala sekolah yang juga seorang ASN terlibat dalam jaringan terorisme, di kota Lampung.

Muhammad Khalil

Jika guru pun terlibat, maka peran pihak yang lebih dekat lagi, yaitu keluarga sangat dibutuhkan. R.A Kartini berkata, sekolah-sekolah saja tidak dapat memajukan masyarakat, tetapi juga keluarga di rumah harus turut bekerja. Lebih-lebih dari rumahlah kekuatan mendidik itu harus berasal. Keluarga, sebagai benteng pengajar pertama dalam hidup seorang anak yang dapat menjadi pengajar pertama terkait ideologi seorang manusia. Peran keluarga dirasa menjadi sangat penting dan sangat mendasar, dimana masyarakat terutama orang tua dapat bekerjasama mengawasi pergerakan dan pengetahuan yang didapatkan oleh anak melalui berbagai sumber, sekolah, social media, pergaulan, dan lain-lain.

 Jalinan komunikasi menjadi aspek penting antara keluarga dengan anak. Bahkan dengan hal mudah seperti memberikan contoh toleransi, moderasi dan pengajaran agama yang baik dan benar. Mainkanlah peran penting keluarga dengan mengenalkan anak pada ilmu agama yang sesungguhnya. “Agama ini agama yang penuh dengan kedamaian, tidak mungkin dia mengajak kepada keburukan” Prof. Dr. AG. KH. Muhammad Quraish Shihab, Lc., M.A. Hendaklah kebaikan yang di torehkan dalam lembar polos kehidupan anak sebagai seorang manusia, bukan gelapnya radikalisme yang merusak si generasi penerus bangsa.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.