oleh

Pancasila Dapat Menekan Paham Radikal di Kalangan Mahasiswa

Oleh Nur Mahmudi Ketua Umum Forum Mahasiswa Desa Indonesia dan Ketua BEM Jurusan Studi Agama-Agama UIN Jakarta

Upaya menangkal radikalisme di Indonesia sudah banyak dilakukan, berbagai kajian digelar, workshop, seminar dan konferensi. Tujuannya adalah untuk mencari akar permasalahan fenomena radikalisme ini.

Di sisi lain, para pemangku kebijakan dan pihak yang terkait sampai saat ini seolah belum menemukan konstruksi formulasi yang ideal dalam upaya menangkal penyebaran faham radikalisme ini, mengingat fenomena ini seolah tidak menunjukkan adanya tanda-tanda berhenti.

Paham radikalisme bukanlah warisan luhur pendahulu bangsa ini, melainkan ia lahir dari ketidakmampuan memahami sebuah ide dan gagasan secara komprehensif. Warisan para pendiri bangsa kita adalah Pancasila, di samping ia berfungsi sebagai dasar negara Indonesia, Pancasila juga diartikan sebagai pandangan hidup dalam berbangsa dan bernegara.

Dalam Pancasila yang terdiri atas lima sila itu, terkandung nilai-nilai yang luas tak bertepi dan dalam yang sudah seharusnya dipahami, dimengerti dan diamalkan oleh segenap masyarakat Indonesia dalam tidak tanduk keseharian mereka.

Masyarakat yang tidak memahami, atau bahkan masih banyak di antara masyarakat yang tidak hapal dengan butir-butir teks Pancasila yang cukup indah dan begitu pun makna yang terkandung di dalamnya. Apalagi mahasiswa yang kiranya patut kita pertanyakan sejauh mana dapat mengerti dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Ketika para mahasiswa leman dalam membentengi diri dari nilai-nilai Pancasila, sudah barang tentu akan mudah tersusupi oleh paham yang tidak sejalan dengan nilai-nilai luhur bangsa kita yang terkandung dalam Pancasila.

Karena di dalam Pancasila, kita diajarkan tentang ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kebijaksanaan dan keadilan. Paling tidak, dengan adanya pemahaman mendasar mengenai Pancasila dan nilai dasar yang terkandung di dalamnya, masyarakat bisa memahami tentang konsep keberagaman di tengah keberagaman suku, ras, budaya dan agama, sehingga mampu meminimalisir munculnya sikap-sikap intoleraN yang yang berdasar pada doktrin sebuah ajaran, pandangan dan keagamaan yang keliru dengan mengaggap golongannya paling benar.

Nur Mahmudi Ketua Umum Forum Mahasiswa Desa Indonesia dan Ketua BEM Jurusan Studi Agama-Agama UIN Jakarta

Sebagaimana kita tahu bahwa kelompok dan individu yang terpapar radikalisme cenderung eksklusif, mengaggap dirinya dan kelompoknya sebagai kelompok yang paling benar dan menganggap kelompok di luar mereka semuanya adalah salah. Tentu pemahaman seperti ini sangat fatal dan berakar pada pemikiran yang bablas. Mereka benar-benar tidak memahami tentang konsep persatuan dan keberagaman sebagai bagian dari pesan utama Pancasila.

Munculnya beberapa kalangan yang mencoba mempertanyakan keberadaan dan peran-peran Badan Pembinaan Ideologi Pancasila selama ini bukanlah sesuatu yang keliru, apalagi menganggap itu salah itu tidak bisa juga. Malah saya melihat kritik yang dialamatkan selama ini kepadanya adalah bentuk kecintaan dan kepedulian masyarakat Indonesia terhadap bangsa ini agar senantiasa terjaga dan aman dari paham-paham yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.