oleh

Para Pencinta Masjid dan Mushola Menolak Konten Narasi Penceramah Radikal

Jika para ustaz dan aktivis radikal sudah memiliki peta masjid dan mushola mana yang harus disusupi dan menjadi tempat kajian mereka, maka pemerintah atau kita, juga harus punya peta dan kontrol yang sama. Fungsi kontrol ini untuk menghalau seberapa jauh mereka bertindak, terutama kaitannya dengan kajian-kajian mereka. Jadi yang perlu dikontrol di sini, bukan hanya pada penceramah radikal yang memiliki nama terkenal atau punya massa yang banyak, tetapi juga, kepada takmir-takmir masjid setempat yang memiliki hasrat keagamaan yang sama: radikal.

Hari ini masjid di mana-mana sudah hampir menjadi labuhan tempat ustaz-ustaz radikal. Lihatlah masjid-masjid umum yang besar di tengah kota, musala di kantor atau di mall, hampir rata-rata telah dikuasai mereka. Kendati demikian, hal tersebut wajib dicegah. Masyarakat harus bisa mengembalikan fungsi masjid seutuhnya, yakni sebagai tempat ibadah yang mendamaikan, mencerahkan, dan menyatukan. Bukan masjid yang dijadikan tempat sebagai basis penebar kebencian, penyesatan, yang diinisiasi oleh takmir dan ustaz-penceramah radikal.

Oleh sebab itu, kelompok yang moderat harus tampil menyeimbangi kelompok yang menganjurkan kebencian, intoleransi hingga terorisme. Disadari atau tidak, upaya penanggulangan radikalisme-terorisme misalnya, tidak akan berhasil jika hanya dilakukan melalui ranah penegakan hukum. Oleh karenanya, counter ideologi dilakukan dengan memoderasi narasi radikal adalah salah satu jawabannya.

Ahmad Thobroni Pengurus Musollah Al-Iklas dan Kabid 3 Keagamaan Pengurus Cabang PMII Ciputat, Tanggerang Selatan

Perlu dicatat, kelompok Islamis ekstremis adalah kelompok yang dapat berkembang dan berevolusi sepanjang era digitalisasi. Menurut Prihandoko (2021), mereka mengambil keuntungan dari meningkatnya perdagangan global, pergerakan uang yang cepat, pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi, serta memiliki posisi yang sangat cepat untuk pertumbuhan dan evolusi mereka. Artinya, mereka berhasil beradaptasi dengan kebudayaan dewasa ini.

Maka jangan heran apabila ustad-ustad Islamis ekstremis ini dengan konten-konten keagamaan yang radikal dan ekstrem ini menjadi mudah dikonsumsi tanpa ada konsultasi dengan otoritas-otoritas keagamaan tradisional yang ada. Akibatnya, pemikiran keagamaan sebagian kelompok milenial cenderung radikal dan ekstrem.

Dengan demikian, inilah alasan mengapa para pengurus masjid, remaja masjid dan siapapun yang mencintai masjid agar saat ini tampil sebagai pilar penangkal konten narasi dari para penceramah radikal tersebut di Indonesia.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.