oleh

Pembengkakan Anggaran Negara Akibat Kondisi Ekonomi Global Saat Pandemi

JAKARTA – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyampaikan penerimaan negara tahun 2020 mengalami kontraksi sangat dalam sementara belanja meningkat sangat tinggi saat pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Realisasi pendapatan negara pada APBN 2020 sebesar Rp1.647,7 triliun atau 96,9% dari anggaran pendapatan pada APBN TA 2020.

“Pendapatan ini turun Rp312,8 triliun atau 15,9 persen dibanding kondisi sebelum Covid yaitu tahun anggaran 2019,” kata Menkeu dalam Rapat Kerja bersama Badan Anggaran DPR RI, Rabu (25/08).

Realisasi pendapatan negara tersebut terdiri dari penerimaan perpajakan Rp1.285,1 triliun, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Rp343,8 triliun, dan penerimaan hibah sebesar Rp18,8 triliun.

Sementara, realisasi belanja negara pada APBN 2020 mencapai Rp2.595,4 triliun atau 94,7 persen terdiri dari belanja pemerintah pusat Rp1.832,9 triliun, serta transfer ke daerah dan dana desa sebesar Rp762,5 triliun.

“Dilihat dari total realisasi belanja negara ini adalah Rp286,1 triliun atau 12,3 persen dibandingkan belanja negara tahun 2019,” ujar Menkeu.

Dari realisasi pendapatan dan belanja tersebut, defisit APBN tahun 2020 mencapai Rp947,6 triliun akibat sisi jumlah pendapatan yang merosot dan dari sisi belanja yang melonjak.

“Defisit ini adalah di atas 6 persen dari PDB. Ini pertama kali Indonesia memiliki defisit di atas 3 persen dan ini dibolehkan karena adanya Undang-Undang Nomor 2 tahun 2020 dalam situasi yang tidak biasa,” kata Menkeu.

Dengan defisit sebesar Rp947,6 triliun tersebut, pembiayaan neto mencapai Rp1.193,2 triliun yang berasal dari pembiayaan dalam negeri Rp1.146,8 triliun dan pembiayaan luar negeri sebesar Rp46,4 triliun.

“Dengan demikian, terjadi sisa lebih pembiayaan anggaran atau SILPA sebesar Rp245,6 triliun,” ujar Menkeu.

Defisit APBN yang sangat besar digunakan untuk menahan kondisi masyarakat dan perekonomian yang mengalami shock luar biasa akibat pandemi Covid-19.

“Inilah yang disebut APBN menjadi instrumen countercyclical. Dia ekspansif pada saat ekonomi mengalami penurunan,” kata Menkeu.

Ke depannya, pemerintah terus berkomitmen untuk mengelola APBN secara hati-hati, serta mengupayakan keberlangsungan fiskal dalam jangka menengah agar APBN tetap sehat dan terjaga. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *