Narasi Penceramah Radikal Dilawan Berfikir Kritis

Beberapa waktu lalu Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) telah mengeluarkan lima kriteria penceramah radikal yang kemudian menuai kontroversi. Kriteria ini muncul setelah Presiden Jokowi menyampaikan kepada seluruh TNI Polri untuk berhati-hati agar dalam tubuh TNI Polri tidak dimasuki paham radikalisme. Berkaitan dengan kriteria-kriteria tersebut untuk menjawab kontroversi yang berkembang di tengah masyarakat, pemerintah mempunyai hak dan kewenangan untuk mengeluarkan semacam guidelines (pedoman) agar masyarakat tidak menjadi korban dari bahaya penyebaran paham radikal. Dengan dikeluarkannya ciri-ciri penceramah radikal oleh BNPT, masyarakat memiliki panduan dan ancangan untuk memfilter setiap penceramah yang akan diundang dalam suatu majelis.

Menjelang Tahun Politik dan Fenomena Penceramah Radikal

Dinamika politik di Indonesia menjelang tahun politik sudah mengindikasikan kenaikan tensi politik dari partai politik dan elite politik yang mau berlaga di arena Pemilu Presiden dan legislatif walaupun pemilu masih 2 tahun lagi tepatnya Pertengahan Februari 2024 (Pilpres) dan akhir tahun 2024 (legislatif). Dinamika ini juga berpengaruh terhadap suasana kebatinan umat apalagi konten narasi dakwah yang berupaya mendiskreditkan bahkan berwarna radikal dalam mencapai ekspektasi kelompok pengusung Khilafah.

Tidak Ada Lagi Postingan yang Tersedia.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.