oleh

Tim Gabungan TNI-Polri Berhasil Membongkar Penyamaran dua Sosok Wanita Suruhan Kelompok Separatis Papua

indonesiabangsaku.com – Terdesaknya posisi Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua dalam beberapa waktu terakhir menimbulkan tindakan ekstra yang kemudian dilakukan untuk dapat bertahan. Berdasarkan kajian sebelumnya, bahwa tekanan yang dialami KST Papua atas keberadaan pasukan TNI-Polri, maka wujud respon yang dilakukan adalah tindakan balas dendam. Pola tersebut telah terbukti dalam beberapa waktu terakhir setelah aparat berhasil meringkus para pimpinan KST Papua. Parahnya, pola balas dendam tersebut sudah tak lagi terencana secara khusus, namun sudah menyasar secara asal dan cenderung menyerang warga sipil terutama dari pendatang. Akibatnya, tindakan KST Papua tak hanya bersifat separatis namun sudah masuk ke ranah kriminal, hanya demi mengejar satu kata, eksistensi.

Siasat Penyamaran Melibatkan Wanita untuk Persiapan Penyerangan

Selain pola balas dendam atas bentuk respon dari terdesaknya posisi KST Papua, siasat penyamaran juga menjadi model lain dari upaya kelompok tersebut untuk mempersiapkan penyerangan, terutama kepada aparat TNI-Polri.

Dalam sebuah laporan di media, tim gabungan personel TNI-Polri berhasil membongkar penyamaran dua orang wanita utusan dari KST Papua. Kronologi kejadian tersebut berawal saat anggota TNI-Polri di pos keamanan salah satu wilayah Intan Jaya didatangi dua sosok wanita yang datang sambil membawa buah-buahan yang disebutnya sebagai hasil panen dari kebun. Sambil tersenyum malu, keduanya menyampaikan maksud kedatangannya untuk meminta bantuan bahan pangan seperti beras dan mie instan dengan sistem barter. Namun saat bantuan sudah diberikan terdapat hal janggal di salah satu wanita tersebut yang memperlihatkan gestur tubuh yang tak biasa. Wanita tersebut gusar seperti ada yang disembunyikan serta seperti kelihatan tak sabar untuk segera kembali dari pos keamanan. Anggota aparat yang berjaga di pos kemudian secara sengaja mengulur waktu agar wanita yang satunya masih berada di pos. Ketika wanita yang gusar tersebut beranjak pergi, salah satu aparat kemudian mengambil teropong untuk mengamati dari kejauhan. Ternyata wanita tersebut bukan kembali ke rumah, namun berjalan ke sebuah honai yang letaknya dekat dengan hutan.

Melihat kejanggalan tersebut, Aparat yang berjaga di pos kemudian menginterogasi wanita satunya yang masih berada di pos keamanan. Saat sedang diinterogasi, beberapa prajurit lain diperintahkan untuk mengambil jalur lain sebagai upaya mengintai wanita yang kembali ke honai. Mereka kemudian melihat wanita tersebut sedang bersama sekelompok pria bersenjata. Ternyata dua wanita tersebut adalah utusan dari kelompok separatis untuk memata-matai situasi di pos keamanan aparat dengan modus berpura-pura menukar bahan pangan dengan buah-buahan. Tujuan utamanya ialah melihat suasana pos keamanan kemudian melaporkannya untuk merencanakan penyerangan. Dari balik teropong juga diketahui bahwa di honai dekat hutan tersebut ternyata terdapat pemuda yang berkumpul dengan jumlah yang semakin banyak membawa senjata api dan busur serta anak panah. Sementera wanita yang tadinya masuk honai, tiba-tiba keluar meninggalkan honai lewat pintu samping. Para pemuda yang berada di honai juga mulai mengisi amunisi ke dalam senjata yang dipegang.

Memastikan bahwa cara tersebut merupakan persiapan penyerangan, Aparat kemudian melepaskan tembakan peringatan yang kemduain disambut dengan tembakan membabibuta oleh KST Papua di honai tersebut. Tindakan tegas terpaksa dilakukan oleh aparat. Siasat tersebut disebut bukan hal baru, sehingga ketika pos keamanan didatangi tamu tak diundang, aparat pun bersiaga.

Kelompok Separatis Papua Menyamar Menjadi Warga untuk Perdaya Aparat

Strategi penyamaran memang bukan hal baru bagi KST Papua, namun variasi dari pola strategi tersebut yang kadang terus dimodifikasi sehingga menjadi salah satu kendala dari aparat dalam penumpasan kelompok tersebut.

Dalam keterangannya, Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rusdi Hartono menyampaikan bahwa serangan KST Papua sulit terdeteksi karena banyak anggotaya yang menyamar seolah menjadi masyarakat biasa. Mereka selalu berusaha bagaimana bisa lolos dari pengejaran yang dilakukan aparat. Mereka juga diuntungkan dengan medan persembunyian yang berada di sekitar pegunungan.

Menyamar Sebagai Anggota Kopassus untuk Kelabuhi Aparat

Selain menyamar menjadi warga, taktik licik KST Papua juga pernah dilakukan dengan menyamar sebagai anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) dalam rangka mengelabuhi aparat. Penyamaran tersebut pernah dibongkar oleh pasukan gabungan TNI-Polri di Kabupaten Kepulan Yapen Papua pada Desember 2021. Seseorang bernama Adi Rawai alias AR ditangkap berikut dengan barang bukti yang disita, yakni satu buah gergaji, satu badik-badik, satu bayonet, tiga parang, satu senjata rakitan, satu baret merah, satu celana PDL bergaris, satu baju PDL bergaris, satu baju lengan panjang, satu baju taktis dengan bendera bintang kejora, satu celana jeans hitam, satu clutch merah, satu bendera bintang kejora kecil, satu ikat kepala dengan bendera bintang kejora, satu tali hijau, satu pin bergambar burung, satu buklet “Orasisuei”, satu buku catatan, satu buku referendum, satu kartu sumbangan keluarga, satu buku tulis, dan satu penggaris kecil. AR diamankan karena terlibat dengan KST Papua di Kampung Tua, Kecamatan Kosiwo, Kabupaten Kepulauan Yapen.

KST Papua Membawa Kabur Senjata Rekannya yang Tewas untuk Menciptakan Kebohongan Publik

Strategi lain yang juga diterapkan secara berulang oleh KST Papua selain melakukan penyamaran ialah mengambil senjata dari rekannya yang tewas dalam kontak senjata. Kepala Penerangan (Kapen) Kogabwihan III, Kolonel Czi IGN Suriastawa menyampaikan bahwa terdapat modus yang selalu dilakukan KST Papua setiap kali terjadi kontak senjata.

Modus tersebut telah dilakukan secara berulang, yakni selalu membawa kabur senjata rekannya yang tewas dalam kontak senjata. Selanjutnya, anggota KST Papua yang selamat tersebut segera memfoto rekannya yang tewas kemudian mengunggahnya di media sosial serta diakukan sebagai korban dari warga sipil. Hal tersebut selalu terjadi setelah aksi kontak senjata antara aparat dan KST Papua.

Sejumlah Upaya Mengantisipasi Strategi Licik Kelompok Separatis Papua

Beberapa strategi yang digunakan oleh KST Papua untuk menyerang aparat, termasuk salah satunya adalah penyamaran menjadi perhatian sekaligus kewaspadaan bersama bagi seluruh pihak sehingga jangan sampai nantinya terkena imbas hal licik tersebut.

Secara umum, terdapat beberapa hal yang disoroti dalam penanganan KST Papua. Mengutip dari pernyataan pengamat intelijen dari Universitas Indonesia (UI), Ridlwan Habib. Beberapa hal tersebut yakni, pertama berkaitan dengan payung hukum dalam mengatasi terorisme sehingga mekanisme pergerakan pasukan TNI tidak bisa leluasa dalam memberantas KST Papua. Kedua, adanya operasi media terutama media sosial yang masif dilakukan oleh KST Papua. Ketiga, belum ada tindakan tegas dari pemerintah untuk memidanakan oknum atau pihak yang menyebarkan, permufakatan jahat dan mempropagandakan teroris. Bahkan oknum atau pihak tersebut masih bisa memainkan media sosial, menggalang opini tanpa adanya tindakan hukum. Terakhir, keempat, penggalangan tokoh lokal yang masih tertinggal. Hingga muncul pemberitaan ada oknum pejabat pemda di sebuah kabupaten yang memberikan dukungan kepada KST Papua. Bahkan ada oknum-oknum tokoh agama yang ditangkap karena terbukti menyembunyikan para anggota KST Papua. Keempat hal tersebut jika diurai untuk ditemukan solusinya diharapkan akan semakin mempersempit pergerakan Kelompok Separatis dan Teroris di Papua.

__

Agus Kosek

(Pemerhati Masalah Papua)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.