oleh

Vonis Rizieq Bukan Lagi Suatu Polemik

Rizieq telah divonis empat tahun penjara terkait kasus tes swab palsu di RS Ummi, Bogor. Hakim menilai Rizieq terbukti melakukan tindak pidana turut serta melakukan penyiaran berita bohong dan timbulkan keonaran.

Vonis tersebut lebih ringan dibandingkan dengan tuntutan jaksa yaitu pidana penjara selama enam tahun. Ada dua hal yang meringankan, yakni Rizieq memiliki tanggungan keluarga serta pengetahuannya dibutuhkan umat. Sedangkan yang memberatkan, perbuatan Rizieq dianggap meresahkan masyarakat.

Untuk kasus kerumunan massa di Megamendung, jika tidak membayar denda, Rizieq akan dihukum pidana penjara lima bulan. Rizieq dianggap terbukti melakukan melanggar Pasal 93 UU Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan, yaitu tiap orang wajib mematuhi penyelenggaraan kekarantinaan kesehatan. Vonis ini lebih ringan dari tuntutan yang diajukan jaksa yang menuntut eks pemimpin Front Pembela Islam (FPI) itu dengan pidana penjara 10 bulan dan denda Rp 50 juta.

Terkait kasus Petamburan Rizieq Shihab mendapatkan vonis delapan bulan penjara. Hakim menilai Rizieq terbukti melanggar Pasal 93 UU Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan, yaitu tiap orang wajib mematuhi penyelenggaraan kekarantinaan kesehatan. Hukuman ini lebih ringan dibandingkan dengan tuntutan jaksa, yaitu dua tahun penjara bagi Rizieq dan 1,5 tahun penjara bagi lima terdakwa lainnya.

Menyikapi hal tersebut, peneliti Makara Strategic Insight, Iwan Freddy, SH.,M.Si, mengatakan bahwa kasus hukum Rizieq Shihab sudah sesuai dengan undang-undang yang berlaku di Indonesia, baik mekanisme due process maupun crime control model (CCM) sudah terlihat dengan mumpuni. Polemik terkait perdebatan vonis RS sudah selesai dan tidak perlu untuk menjadi suatu perdebatan lagi.

“Kasus hukum Rizieq Shihab sudah sesuai dengan undang-undang yang berlaku di Indonesia, baik mekanisme due process maupun crime control model (CCM) sudah terlihat dengan mumpuni. Polemik terkait perdebatan vonis RS sudah selesai dan tidak perlu untuk menjadi suatu perdebatan lagi”, ujar Iwan Freddy.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *